Teman Ngobrol

“Hari ini, kamu mau kemana?”

“Hm, tidak akan kemana-mana mungkin, lagi pula aku tidak punya uang untuk keluar rumah atau ke suatu tempat”

Dia lalu duduk di kasurnya sambil menatap cermin yang bersebrangan dengan kasur. Dia menatap bayangannya sendiri, lalu kemudian membuat sedikit senyuman dan dia melihat bayangannya ikut tersenyum. Melihat hal tersebut, dia jadi terhibur seperti seseorang benar-benar tersenyum kepadanya.

Dia lalu berbaring menatap langit-langit kamarnya. Di luar, suara hujan deras terdengar jelas. Dari suaranya saja, dia bisa membayangkan betapa basahnya suasana di luar sana.

“Bagaimana jika kita membuat mie? Bukankah kau suka makan mie; apalagi cuacanya juga… ”

“Ah, aku malas!” jawabnya.

Tiba-tiba suara petir membuatnya kaget. Hujan semakin deras, dan langit sore semakin meredup. Kamarnya mulai gelap dan hanya meninggalkan sisa-sisa cahaya dari luar. Dia bangun dan melihat seseorang di depannya, oh, bukan, hanya bayangannya yang sama seperti yang tadi dia lihat.

“Ayolah, tidak bisakah kita melakukan sesuatu? Aku mulai bosan di sini!” Dia berkata lagi.

Bayangannya menjawabnya, “Kamu mungkin bisa mendekat, lalu kita akan bercerita tentang rahasia… ”

Dia mengerutkan dahinya. -Sebuah rahasia? rahasia apa? Dia berpikir sejenak lalu kemudian berjalan ke arah cermin dan duduk di hadapan cermin tersebut. Cermin tersebut memiliki ukuran lebih tinggi sedikit dari badannya, mungkin sekitar 180 cm dan menempel di dinding seberang kasurnya.

“Baiklah, rahasia apa yang ingin kau ceritakan tadi?” Dia bertanya kepada sosok yang mirip dengan dirinya di cermin.

“Di halaman belakang rumah ada sesuatu. Apa kau tahu, sebuah kuburan, dan itu masih baru.” Bayangannya berkata dengan sedikit berbisik.

Dia langsung tertawa mengejek. “Jangan bercanda, apa lagi coba menakutiku. Hanya karena mulai malam dan hujan deras disertai petir, lantas kau mau membuat suasana mencekam?”

“Sebentar, ini serius, dan bukan hanya di halaman belakang rumah, di kamar mandi juga ada sesuatu. Apa kau tidak bertanya-tanya di mana mereka semua saat ini?” Dia yang di cermin menjelaskannya.

“Mereka siapa? Apa yang kau maksud itu adalah orang tuaku? Mereka sudah meninggal, dan dari dulu aku hanya tinggal dengan orang tuaku sampai mereka kemudian meninggal. Aku sekarang tinggal sendirian.”

“Lalu pacarmu, di mana dia sekarang?” tanya bayangannya, dari cermin.

Dia agak kaget dengan pertanyaan yang baru saja diterimanya, lalu dia menjawab dengan agak serak, “hm… eh, oh iya, dia kemarin mengunjungiku tapi kita sedikit bertengkar jadi, mungkin sekarang dia pergi”

“Apakah pergi selamanya? Seperti halnya orang tuamu?” Sosok di cermin bertanya dengan cepat.

“Entahlah, aku tidak peduli. Siapa yang peduli dengan orang lain yang tidak peduli pada kita?!!” Dia agak marah sedikit menjawabnya, lalu dia menambahkan, “tapi kau peduli. Kau selalu ada dan memahami bagaimana perasaanku. Kau selalu tahu apa yang sedang aku pikirkan dan rasakan, bagaimana bisa? Bagaimana kau melakukannya?”

“Bukankah tadi sudah kukatakan, kalau aku akan menceritakan tentang rahasia? Kalau kau mau mendengarnya, aku akan menceritakan semuanya.”

“Baiklah, akan aku dengarkan. Ceritakan rahasia tersebut, itu bisa menghibur suasana gelap di kamar ini.” Dia lalu lebih mendekat ke cermin tersebut, seperti ingin mendengar sesuatu secara sembunyi-sembunyi.

“Sebelumnya, maukah kau menceritakan rahasiamu juga?” Sosok di cermin bertanya setengah berbisik. “Misalnya, kenapa kau membenci mereka, orang tuamu, dan bagaimana hubunganmu dengan kekasihmu?” tanyanya.

“Orang tuaku? Aku tidak menyukai ayahku yang hanya bermalas-malasan di rumah, tidak bekerja serta otoriter dengan sifat egonya. Dia hanya memikirkan isi perutnya dan bagaimana supaya dia bisa tidur nyenyak. Dia sama sekali tidak peduli bagaimana dengan keadaan keluarganya.” Dia menjawab setengah berbisik, lalu kemudian melanjutkan, “Aku pada awalnya, kasihan kepada ibu yang harus bekerja sampai larut malam dan menjadi korban kemalasan ayah, tapi sudah lama aku sering melihat ibu di luar sedang bersama seseorang, seorang pria,” ungkapnya.

“Benarkah? Apa kau mengenali pria tersebut?” Yang di cermin bertanya.

“Tidak. Yang jelas itu bukan ayah atau kerabat kami. Aku pikir itu rekan kerja ibu. Tapi apa yang dilakukannya berdua dengan pria tersebut, di sebuah kafetaria, dan ekspresi wajah mereka, seperti bukan orang yang sedang membahas pekerjaan,” jawabnya.

Dia diam sejenak, memperhatikan bayangan wajah kosong di depannya. Perlahan wajah tersebut berubah sedih, wajah keduanya. Dia berpikir, -apakah kau sedih? Aku juga demikian, kita berdua sama.

Lalu kemudian, dia melanjutkan ceritanya. “Aku pada suatu hari, tidak sengaja melihat ibu di suatu tempat dengan pria tersebut. Lalu aku memperhatikan mereka berdua dari kejauhan. Pernah aku bertanya kepada ibu ketika dia tiba di rumah, tentang apa yang dilakukannya bersama pria tersebut.”

“Lalu, apa jawaban ibumu?” Sosok di cermin bertanya penasaran.

“Ibu langsung kaget setelah aku bertanya dan berkata dengan pelan namun tegas, ‘awas, jangan sampai ayah dengar!’ Begitulah dia menjawab.”

“Sepertinya, aku memahami sesuatu.” Yang di cermin terlihat berpikir.

“Memang sudah jelas. Siapapun akan paham dengan situasi tersebut. Kalau memang ada penjelasan, ibu pasti menjelaskannya, bukan malah membungkamku.” Dia menambahkan, menguatkan dugaan bayangannya.

“Lalu, bagaimana dengan pacarmu? sepertinya kemarin dia datang, kan? Kenapa kalian bertengkar?” Dia yang di cermin bertanya lagi.

“Ah ya, begitulah wanita. Selalu mendahulukan emosinya daripada logikanya. Dia kemarin menjengukku lalu menanyakan tentang hasil terapiku,” jawabnya.

Dia lalu berdiri dan berjalan menuju meja bacanya, mengambil selembar amplop yang ada di laci meja. Sebuah hasil tes laboratorium dari rumah sakit dan beberapa keterangan dari dokter, dikeluarkannya dari dalam amplop berwarna putih. Dia menoleh ke arah cermin dan melihat bayangannya juga berdiri, sama seperti yang dilakukannya sekarang, oh ya, tentu saja, sudah seharusnya seperti itu.

“Kau mau melihatnya? Aku akan menunjukannya kepadamu.” Dia lalu membawa kertas tersebut dan kembali duduk di depan cermin.

“Lihat, tidak ada yang salah di sini. Aku heran kenapa pacarku justru marah dengan hasil cek dokter ini. Apa kau tahu, setelah membacanya, dia lalu membuka semua tirai di kamar ini dan membuka jendelanya.”

“Kenapa dia melakukan itu, dan apa yang dikatakannya?” Dia yang di cermin bertanya, sambil melirik ke arah kertas hasil terapi tersebut.

“Dia bilang, aku perlu cahaya, sinar matahari, udara segar, dan intinya aku perlu keluar dari kamar ini. Katanya, aku harus memulai aktivitas di luar kamar ini dan mencoba berinteraksi dengan seseorang.”

“Aku sudah mengatakannya, kalau aku tidak bisa keluar karena aku tidak tahan terhadap sinar. Itu bisa membuat mataku silau dan kulitku terasa terbakar. Lagipula, orang-orang di luar sana sepertinya sengaja menjauhiku.”

“Lalu, bagaimana pacarmu menanggapinya?” tanya bayangannya.

“Dia menyalahkanmu, eh-, maksudku dia menyalahkan cermin ini. Dia bilang aku semakin terbawa dengan kebiasaan masa kecilku, suka berbicara dengan bayangan di cermin dan katanya, ketika aku melakukannya aku terlihat seperti orang yang aneh dan bodoh.”

Setelah menjawab, dia lalu menatap wajahnya sendiri di cermin, berusaha mengenali dan menggali lebih jauh, siapa sebenarnya sosok di seberang sana.

Dia lalu melihat bayangan tersebut berbicara, “Aku tahu kejadian kemarin. Aku tahu pacarmu keluar dengan marah dan dia berencana menghancurkan cermin ini. Aku dengar dia akan ke dapur dan akan mengambil sesuatu untuk menghancurkan cermin ini.”

“Ya itu benar. Dia akan ke dapur mengambil sebuah palu di sana. Tapi itu tidak sampai terjadi ketika dia melihat sekop dan gundukan tanah yang masih baru, di halaman belakang.”

Ekspresi bayangannya mendadak terlihat kaget, lalu kemudian bertanya, “Lalu, apa yang dia katakan? dan apa yang kau lakukan?”

Dia menjawab, “dia hanya bertanya kepadaku, apa yang telah terkubur di sana, dan tiba-tiba dia bertanya ‘di mana orang tuaku’. Aku menjawabnya tidak tahu, lalu kemudian dia panik dan berusaha menghubungi seseorang melalui handphone-nya.”

“Lalu, apa yang kau lakukan?” Yang di cermin penasaran.

“Entahlah, aku tidak begitu ingat. Kepalaku mendadak sakit sekali waktu itu. Aku hanya ingat kalau aku pergi ke kamar dan mencari obatku.”

“Hei, kau bilang tadi ingin menceritakan rahasia?” Dia tiba-tiba ingat. “Apa rahasia tersebut? Cepat ceritakan padaku!”
tuntutnya.

Bayangannya kemudian berkata, “Dengarkan dengan baik. Aku melihat ayah dan ibumu bertengkar beberapa hari yang lalu di dapur, aku muncul di hadapan mereka dan berkata kepada mereka berdua tentang ayah yang pemalas, dan ibu yang berselingkuh. Aku sangat muak dengan kemunafikan mereka. Mereka berdua terkejut dan amarah mereka semakin menjadi. Pertengkaran malah semakin hebat.”

Suasana di dalam kamarnya mendadak terang karena kilatan cahaya dari luar. Sosok di cermin kemudian melanjutkan ceritanya, “ayahmu mengambil pisau lalu menusuk ibumu. Kemudian, ayahmu berkata kalau aku harus tutup mulut atas kejadian tersebut. Aku bilang kalau aku akan tutup mulut, dan ketika dia lengah, aku menusuknya juga. Aku telah mengubur mereka berdua di halaman belakang.”

“Dan kau juga perlu tahu, pacarmu, dia ada di kamar mandi sekarang. Dari kemarin dia menunggumu di kamar mandi. Setelah hujan reda, kau bisa menguburnya di halaman belakang juga. Tanah basah bisa membuatmu menggali lebih mudah,” tambahnya dengan suara yang tenang.

Referensi: Skizofrenia adalah gangguan kejiwaan kronis ketika pengidapnya mengalami halusinasi, delusi, dan juga menunjukan perubahan sikap. Pengidap skizofrenia umumnya mengalami kesulitan untuk membedakan antara kenyataan dengan pikiran yang ada pada diri si pengidap.
www.halodoc.com/kesehatan/skizofrenia

Leave a Reply

Your email address will not be published.