Pilih Orang Tua Atau Pasangan?

Jika menjawab judul di atas, sudah pasti 98% menjawab ‘keduanya’ dan sisanya menjawab salah satu dari ‘orang tua/pasangan’. Namun, bagaimana jika harus memilih salah satu dari mereka? Sebuah pilihan yang sulit, bahkan menjadi simalakama pada akhirnya nanti. “Tapi saya tetap harus memilih!” Benar-benar suatu hal yang sulit jika memang ‘terpaksa’ harus memilih salah satu dari mereka.

Kalau saja belum ada ikatan pernikahan, masih bisa berkorban perasaan dengan mengakhiri hubungan kita dengan pasangan demi orang tua, atau menunda pernikahan sampai orang tua melunak dan mau menerima pasangan. Bagaimana jika sudah menikah bahkan sudah ada buah hati yang lahir, haruskah kita bercerai mengorbankan rumah tangga dan masa depan anak demi berbakti kepada orang tua.

Beberapa kawan saya mengalami hal demikian. Dihadapkan pada pilihan seperti ini, entah itu ketika akan menikah atau ketika pernikahan sudah terlaksana. Saya sendiri tidak bisa memberikan pilihan pasti atau menyarankan harus memilih siapa. Di dalam artikel ini, hanya sebagai masukan untuk kalian. Apapun keputusannya tetap kalian sendiri yang menentukannya.

PENTING!: Di sini, saya tidak menyarankan kepada siapapun untuk memilih salah satu pihak antara orang tua atau pasangan. Artikel ini hanya informasi dan saran tentang, bagaimana menjalankan hubungan baik dengan kedua pihak.

1. Tahap Belum Menikah
Bagaimana kalian menjalani hubungan dengan pasangan? Apakah orang tua mengetahui siapa pasangan kita? Hal ini sering menjadi ‘bom waktu’ ketika suatu hubungan yang tidak disetujui tapi tetap dijalankan dengan cara tersembunyi. Mungkin tidak ada yang salah dengan hubungan tersebut, tapi kebanyakan orang tua merasa kurang dihormati jika anaknya memilih pasangan dan menjalani hubungan dengan sembunyi-sembunyi.

Kalau memang ‘back street’ dilakukan karena orang tua tidak setuju dengan pilihan kita, berdiskusi bisa menjadi cara musyawarah yang baik. Tanyakan kepada orang tua bagaimana kriteria yang sesuai, dan jika kriteria tersebut berlebihan, katakan dengan baik alasannya.

Semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya, tapi yang menjalani hubungan adalah anak, bukan orang tua. Sebagai orang tua pun jangan terlalu ego. Orang tua jangan memakai pengalaman masa lalu untuk anaknya, jangan mengukur kebahagiaan anak dengan pengalaman yang sudah mereka jalani meski istilah ‘lebih banyak makan garam’ terus digunakan.

Perhatikan perasaan anak. Apakah orang tua rela memaksakan pasangan pilihannya kepada anaknya? Pernahkah membayangkan menikah dan menjalani hidup dengan orang yang belum bisa kita terima?

Kalau memang punya kriteria, sampaikan kepada pasangan si anak, bimbing pasangan tersebut supaya bisa memenuhi kriteria yang diberikan, bukan malah melakukan eliminasi dan menyuruh anak cari pengganti. Kalau memang karakter pasangan pilihan anak benar-benar buruk dan tidak bisa dibenahi, katakan kepada anak dengan bijak dan alasan-alasanya, tentunya alasan yang bisa diterima si anak.

“Pokoknya orang tua tidak setuju!”
Ucapan seperti ini bukanlah hal yang bijak. Justru menunjukkan sikap egois dan otoriter.

Sebagai anak, kita juga harus bisa mendukung orang tua karena hubungan tidak akan sampai ke pernikahan tanpa restu dari mereka. Sampaikan kepada pasangan kemauan orang tua, pertemukan dengan mereka. Tidak ada salahnya mengundang pasangan ke acara kecil keluarga seperti makan malam, atau sekedar mengantar orang tua, atau hanya sekedar mampir sejenak.

Tips: Bagi pria, minum kopi bersama calon ayah mertua bisa menjadi pendekatan sederhana. Dan bagi wanita, belanja atau memasak bersama calon ibu mertua bisa membuat pasangan dan orang tua saling mengenal.

Tunjukkan keinginan bahwa kita dan pasangan menjalani hubungan demi orang tua juga, bukan hanya kebahagiaan berdua. Tindakan saling memaksakan kehendak tidak akan berdampak baik bagi siapapun. Sebagai anak akan dicap durhaka, paling parah diusir atau tidak diakui sebagai anggota keluarga. Sebaliknya, jika orang tua memaksakan kehendak, anak bisa nekat pergi ‘kawin lari’, atau tetap di rumah tapi memutuskan tidak menikah dengan siapapun kecuali dengan pilihannya, dan yang lebih tragis sampai pada tahap bunuh diri. Ironis sekali, mempertahankan ego tapi mengorbankan orang lain.

Kembalikan ke jati diri masing-masing. Manusia tetap manusia, tidak akan menjadi malaikat atau bidadari apalagi Tuhan. Orang tua tidak bisa menjadi Tuhan yang bersikap paling benar dan paling bijaksana, anak atau pasangan tidak mungkin menjadi malaikat atau bidadari yang sempurna. Jika ada kekurangan, itu manusiawi. Kalau kita merasa benar, kenapa tidak membimbing yang salah supaya menjadi benar?

2. Tahap Setelah Menikah.
Ini adalah yang paling sulit karena di antara kita dan pasangan sudah ada ikatan yang kuat, apalagi dengan adanya buah hati. Betapa tidak ketika rumah tangga telah terbina entah karena masalah apa, kita dihadapkan pada pilihan orang tua atau pasangan. Memilih pun bukan keputusan yang baik karena apapun pilihannya akan mengorbankan salah satu pihak. Menurut saya, hal yang biasa dilihat orang tua setelah pernikahan ada dua, yaitu keadaan psikis rumah tangga dan tingkat kesejahteraan.

Keadaan psikis.
Ini adalah keadaan yang dilihat dari segi ketentraman batin. Cekcok rumah tangga, dan pertengkaran adalah hal yang umum dirasakan oleh pasangan yang telah menikah. Kenapa tiba-tiba kita menghadapi hal seperti ini? Temukan sebabnya. Biasanya orang tua meminta anaknya berpisah setelah adanya pernikahan pasti karena suatu sebab. Hal yang umum adalah orang tua melihat hal yang tidak beres pada rumah tangga anaknya, seperti pertengkaran dan tingkat kesejahteraan yang menurun.

Sebagai anak, kita lihat, apa benar yang dilihat oleh orang tua kita? Pertengkaran itu wajar karena setiap rumah tangga pasti diuji. Kalau memang pertengkaran tersebut masih taraf wajar dan kita sebagai anak merasa itu bukan masalah yang berat, katakan kalau hal tersebut hanyalah kesalahpahaman atau wujud lain dari berdiskusi dengan pasangan. Tunjukan sikap yang harmonis di depan orang tua, dan kurangi keributan. Setiap masalah yang ada masih bisa diselesaikan dengan nada yang pelan tanpa harus menggunakan keributan.

Apakah kalian tinggal satu atap dengan orang tua? Jika ya, pilih waktu yang tepat jika akan ‘berdiskusi’ dengan pasangan. Masuk ke kamar atau di luar rumah. Kecenderungan orang tua ikut campur dalam persoalan rumah tangga anaknya itu wajar, karena orang tua merasa bisa menengahi atau memberikan solusi.

Jika kalian tinggal di rumah sendiri, jangan mengeluhkan keadaan rumah tangga kepada orang tua, karena itu jelas membuka permasalahan kalian dan memberi kesempatan orang untuk ikut campur. Dalam hal ini, jangan salahkan orang jika mereka ikut andil dalam permasalahan rumah tangga kalian.

Berhati-hatilah menjaga rahasia rumah tangga, bukan karena menutupi aib rumah tangga atau pasangan, tapi proses untuk sampai ke pernikahan sudah pasti berat dan melalui restu orang tua. Wajar jika orang tua merasa perlu ikut campur, karena setelah diberikan restu, kenapa kalian tidak menjadi lebih baik?

Orang tua tidak berhak memaksakan perceraian kepada anaknya, apalagi jika anak yang menjalaninya merasa masih baik-baik saja. Jika hal demikian terjadi, jelas itu ego semata. Katakan kepada mereka kalau kalian baik-baik saja, jangan membuat khawatir orang tua dengan hal-hal yang tidak perlu ditunjukkan.

Tingkat kesejahteraan.
Hal ini bersifat bersifat relatif, namun sering menjadi permasalahan yang memicu ikut campurnya orang tua dalam rumah tangga kita.

Setelah rumah tangga berjalan, kesejahteraan yang menurun menjadi alasan orang tua menghakimi bahwa kita telah salah memilih pasangan. Seperti yang sudah disebutkan, orang tua ingin yang terbaik bagi anaknya dan kesejahteraan yang menurun menjadikan alasan bahwa kita tidak mendapatkan yang terbaik dalam pernikahan. Sebenarnya ini hanyalah bagaimana kita menyikapi pola dan gaya hidup.

Tingkat kesejahteraan bagi orang tua, tentunya berbeda dengan anak. Bagi sebagian orang tua mungkin, kemapanan dan kecukupan materi adalah tolok ukur yang dinilai. Namun yang menjadi Pertanyaannya, berapa jumlahnya? Jika kita yang berpenghasilan cukup, sementara orang tua mengukurnya dengan taraf punya rumah sendiri, kendaraan pribadi, liburan atau memiliki tabungan banyak, jelas itu terlalu memaksakan. Bukannya hal tersebut tidak mungkin, tapi semua perlu proses. Apalagi jika pasangan kita berasal dari orang sederhana dan tidak memiliki jabatan khusus di dalam profesinya.

Tidak bijak bagi orang tua menilai rendah kesejahteraan anaknya hanya dari nilai materi dan strata sosial. Kenapa harus malu memiliki menantu yang berpenghasilan kecil? toh, dia masih bekerja dan berusaha mencukupi keluarganya, daripada menganggur.

Jika orang tua memiliki taraf ukur demikian, kenapa tidak berdiskusi tentang bagaimana cara memenuhi kriteria tersebut? Apakah orang tua bisa memberikan arahan kemana anak harus bekerja, bagaimana memulai atau mengelola suatu bisnis? Jika tidak, bersikaplah sportif. Biarkan mereka berusaha berlayar dengan perahu mereka sendiri. Dua nahkoda dalam satu kapal hanya akan menyebabkan hilang arah tujuan dan berakhir dengan kapal karam. Lagipula, semua manusia ingin memiliki strata tinggi dalam lingkungan sosialnya. Tapi keadaan, sekali lagi keadaan-lah yang menentukan mereka. Bukannya mereka tidak mau sekolah hingga sarjana, bukannya mereka tidak mau menjadi direktur sebuah perusahaan, tapi keadaan dan kemampuan mereka yang membatasinya.

Jika orang tua memiliki solusi berbagilah, jika tidak cukup doakan yang terbaik bagi mereka. Menghakimi rumah tangga anak secara sepihak bukan contoh bijaksana. Selama anak tidak mengeluh itu artinya mereka bahagia.

Jika anak mengalami kesulitan, bimbing mereka sebagai pihak ketiga yang menengahi atau memberi solusi, bukan sebagai pihak pertama yang merasa memiliki keputusan mutlak di dalam rumah tangga mereka. Anak tidak akan menjadi dewasa di dalam rumah tangganya jika orang tua terus memposisikan dirinya sebagai pihak pertama yang memipin dan mengatur rumah tangga mereka.

Jika orang tua memiliki keluhan terhadap anak atau menantu mereka, jangan membicarakannya secara sepihak. Semisal jika orang tua bermasalah dengan menantunya, jangan hanya membicarakannya dengan anak aja, tapi bicarakan langsung dengan mereka semua agar timbul solusi dan menghindari salah paham. Bagaimana mereka bisa tahu jika mereka hanya mendengar dari istri/suami apa yang menjadi keinginan orang tua. Bicarakan dengan santai dan tenang agar mereka merasa nyaman dan merasa dibina, bukan merasa disalahkan apalagi dihakimi.

Bagi orang tua, menikah lebih dulu belum berarti lebih ahli dan berpengalaman. Masa yang dijalani berbeda dan proses serta jaman yang dilalui berbeda, tidak bisa disamakan apalagi memaksa anak harus seperti orang tua. Sebagai anak sudah menjadi kewajiban membahagiakan orang tuanya. Oleh karena itu, tunjukan kebahagiaan kalian. Jangan sesekali membuka aib pasangan kepada orang tua atau pihak luar. Karena faktanya, kalian telah memilih pasangan tersebut, ada anak dari hasil pernikahan yang harus diperjuangkan.

Membuka aib atau mengeluh tentang masalah rumah tangga adalah hal yang biasa terjadi, tapi jika itu ditunjukan secara berlebihan kepada orang tua, sama saja kalian meminta ijin untuk berpisah. Jika orang tua bisa bersikap bijak, sudah pasti mereka akan mengarahkan anaknya ke arah perbaikan, bukan perceraian. Pikirkan dampaknya. Bercerai mungkin mudah bagi sebagian orang, namun hidup setelahnya, mental anak, status di masyarakat, dan bagaimana kelanjutannya.

Berkomunikasi dengan baik, menjaga hubungan dan tetap menunjukan kebahagiaan. Setiap rumah tangga pasti pernah diuji sampai tahap mendekati perceraian, justru peran orang tua adalah membantu memperbaiki, bukan mendukung perceraian tersebut. Kecuali jika dalam rumah tangga sudah timbul hal yang tidak wajar seperti penganiayaan fisik yang bisa mengancam nyawa.

Berumah tangga artinya siap memiliki kehidupan baru. Orang tua harus rela melepas dan mendoakan yang yang terbaik. Sementara anak harus siap berjuang dan meninggalkan ketergantungan terhadap orang tua.

Komunikasi dari hati ke hati dengan membuang ego pasti menemukan jalan keluar setiap permasalahan.Sumber referensi: Sahabat di Bandar lampung, sahabat di Pulung, Ponorogo, sahabat di Balong, Ponorogo.

Leave a Reply

Your email address will not be published.