Pantai Senja

Petang ini, laut pantai berwarna kemerahan memantulkan sinar mentari yang semakin bersembunyi di ufuk barat. Beberapa pedagang pinggir pantai, para pemilik persewaan tikar dan payung pantai, terlihat sedang berkemas membereskan dagangan mereka. Pengunjung, pun mulai berkurang sedikit demi sedikit. Beberapa tawa ceria mereka bersama keluarga, sahabat dan pasangannya, masih membekas setelah keceriaan yang telah mereka lalui bersama.

Sementara aku, masih menikmati suasana sore di pantai ini. Sendirian dan duduk di pasir sambil bersandar di sebuah pohon besar. Dalam alunan suara ombak aku melamun, dan mengingat sesuatu yang pernah ada di pohon ini, beberapa tahun yang lalu. Ya, aku ingat sesuatu. Aku kemudian bangun dan berdiri mencari sesuatu di pohon tersebut. -Ah, ternyata masih ada, pikirku sambil melihat dan meraba ukiran kasar di batang pohon besar tersebut. Dua nama tertoreh di sana; nama seorang pria dan wanita, kedua nama tersebut dibingkai dalam torehan berbentuk simbol hati. Pastinya mereka adalah sepasang kekasih.

Aku kembali duduk dan bersandar pada pohon, sampai kemudian rasa mengantuk tiba-tiba datang dan menghasut semua syaraf untuk tenang dan terlelap.


“Apa yang akan kita lakukan sekarang?” Seorang wanita bertanya pada pasangannya, dengan cemas.

Yang ditanya kemudian menjawab, “aku bingung. Coba kita berpikir lebih matang lagi, bagaimana reaksi mereka jika mengetahui semua ini? Orang tua kita. Bagaimana mereka akan melakukan tindakan pada kita berdua, terutama pada janin yang ada dalam kandungan mu sekarang?”

“Apapun yang akan mereka perbuat, ini sudah terjadi. Kita tidak bisa menyembunyikan janin ini dan lari dari kenyataan.” Wanita itu menjawab sambil memegang perutnya.

Wanita tersebut sedang hamil empat bulan. Dia memegang perutnya sambil berusaha menenangkan janin yang ada di dalam perutnya. Kemudian dia berkata “lagipula, kita sudah berpacaran selama tiga tahun lamanya. Aku pikir sudah saatnya kita memberitahukan semua ini kepada mereka.”

Pria itu terdiam, menatap ke arah lautan luas, seperti membayangkan sebuah masa depan. Masa depan seperti apa di sana, dia sendiri tidak bisa menggambarkannya.

“Dari awal kita berbeda keyakinan, agama kita berbeda. Apapun alasannya, mereka tidak akan merestui ini, baik itu orang tuamu atau orang tuaku.” Pria itu berkata sambil tetap menatap ke arah laut.

“Kau tidak akan berpindah agama demi cinta kepada manusia, begitu juga aku. Kalau kau melakukannya hanya untuk mendapatkan restu, mereka tidak akan percaya. Lagipula, di mana dan bagaimana kita bisa menikah?” Si pria bertanya dan masih terus menatap ke laut seperti sedang mencari jawaban di tengah laut.

“Kita mungkin bisa melakukannya dengan cara lain. Menikah beda agama bisa dilakukan banyak orang, jika kau masih mau mempertahankan semua ini,” kata wanita itu sambil menatap pasangannya. Yang ditatap tidak menoleh dan terus memandang ke arah laut.

“Kenapa? Kenapa Tuhan seperti ini? Kenapa Dia menjadikan manusia berbeda agama?” Pria itu bertanya tanpa peduli pertanyaannya akan dijawab atau tidak.

“Kau bertanya pada Tuhan yang mana… Tuhanku atau Tuhanmu?” tanya si wanita.

“Ada berapa Tuhan di semesta ini? Bukankah hanya ada satu Tuhan? Manusia hanya menyembah satu Tuhan, agama manapun hanya menyembah satu Tuhan. Perbedaannya hanya di agama. Setiap agama memiliki cara sendiri untuk menyembahNya.” Pria itu mengucapkannya dengan tegas.

“Agama hanya mengajarkan untuk menyembah satu Tuhan. Manusia itu sendiri yang membuat perbedaan dan kebenaran berdasarkan pemikirannya sendiri. Mengatakan kalau agamanya paling benar dan jika tidak mengikuti agamanya maka akan binasa lalu berakhir di neraka. Setiap agama berpendapat sama sehingga berakhir dengan peperangan, perbedaan, diskriminasi, provokasi dan pembunuhan dengan alasan agama,” sambungnya.

Mereka berdua terdiam dalam renungan masing-masing. Tidak bisa saling membela atau menyalahkan satu sama lain. Ras dan budaya mungkin masih bisa disatukan atau dilanggar batasnya, tapi ini agama, sesuatu yang yang memiliki nilai pengorbanan untuk keimanan, bahkan lebih dari sekedar nyawa manusia.

“Kenapa sih, Tuhan tidak turun dan menunjukkan kebenarannya? Jadi kita bisa bersatu.” Wanita itu bertanya.

“Apa maksudmu?” Yang ditanya kebingungan.

“Yang aku maksud, kenapa Tuhan mengutus malaikat dan nabinya? Kenapa tidak Tuhan sendiri yang datang kepada kita dan menunjukan keberadaanNya. Nabi dan malaikat bukan Tuhan, hanya ciptaanNya, sama seperti kita. Jika aku yang hanya ciptaanNya mengajak mahluk lain untuk menyembah Tuhan, apakah mereka akan percaya? Aku hanya ciptaanNya,” jelas wanita tersebut.

“Mungkin kita seperti boneka mainanNya. Dia sebagai sutradara dan pemegang skenario. Kita hanya memainkan peran kita masing-masing.” Pria tersebut berusaha memberi penjelasan meskipun dia sendiri ragu dengan penjelasannya.

“Tapi aku tidak menginginkan peran ini! Memainkan peran berlawanan keyakinan denganmu, dan peran apa yang akan diberikan kepada anak kita ini, nanti?!” Wajah wanita itu terlihat cemas.

“Kamu sudah memilih peran tersebut, dan kita sudah memainkannya. Kamu tidak bisa menyalahkan Tuhan begitu saja. Ini kesalahan kita. Kita berdua yang memilih peran kita.” Pria itu berkata sambil menatap wajah wanita tersebut.

Wanita itu terdiam sambil memegang perutnya. Dia berpikir tentang anak yang ada di dalam kandungannya dan berkata di dalam benaknya, -Apakah kamu bertemu dengan Tuhan sebelum hadir ke dunia ini, nak? Katakanlah kepada kami berdua, tunjukkan kebenaran tentang Tuhan agar kami bisa bersatu.

“Seumpama, kau mengetahui kenyataan bahwa keyakinanmu selama ini ternyata salah, apakah kau bersedia merubah keyakinanmu?” tanya wanita itu kepada pasangannya.

“Tidak. Aku tidak akan merubah atau mencari keyakinan lain,” jawab pria tersebut.

“Kenapa, apa karena keyakinanku salah?” tanya wanita itu.

“Bukan karena alasan itu. Tapi aku akan menunggu kebenaran. Sesuatu yang benar akan muncul sendiri dan menemukan keyakinan itu sendiri. Seperti semacam petunjuk untuk kita,” jelas pria tersebut.

“Jadi kalau begitu, tidak ada agama manapun yang berhak menyatakan paling benar, akan tetapi kebenaran tersebut yang akan menemukan mereka.” Wanita itu berasumsi. Dia lalu melanjutkan, “Dan kita akan membiarkan anak ini menemukan Tuhan dan kebenarannya sendiri.”

Wanita itu mengambil tas ranselnya dan membukanya. Dia mengeluarkan pisau cutter dari dalamnya. Melihat hal tersebut, sang pria bertanya, “apa yang mau kau lakukan dengan benda itu?”

“Aku ingin membuat sesuatu,” jawab wanita itu sambil berdiri dan membuat ukiran kecil di batang pohon tersebut. Dia mengukir namanya dan nama pria pasangannya lalu membuat gambar hati yang melingkari dua nama itu.

“Aku ingin dikenang dan meninggalkan jejak kalau kita pernah ada di sini,” kata wanita itu. Dia lalu kembali duduk dan meletakan pisau cutter tersebut di pasir pantai. Dia menatap laut yang luas dan berubah berwarna keemasan. Tidak terasa waktu sudah sore dan mereka berdua belum menemukan jawaban tentang kebenaran. Mereka berdua penuh tanda tanya, apa yang harus mereka lakukan di dalam situasi tersebut.

“Jadi, kita berdua tetap bertahan dengan keyakinan masing-masing?” Wanita tersebut bertanya sambil melihat perutnya. Dia bisa merasakan gerakan kecil di dalamnya, lalu dia mengelus perutnya perlahan berusaha menenangkan janinnya.

“Sepertinya demikian,” kata pasangannya. ” Prinsip tentang keTuhanan tidak akan bisa ditawar dengan alasan apapun,” sambungnya untuk menekankan jawaban yang tegas.

“Lalu bagaimana dengan nasibku; atau nasib anak kita ini?” tanya wanita tersebut.

“Bisakah kita mencari solusi lain, tanpa mempertaruhkan keyakinan kita? Seperti… ” Pria itu ragu-ragu dan tidak berani melanjutkan kalimatnya. Dia melihat pisau cutter yang tergeletak di pasir pantai. Saat itu dia merasa seperti ada malaikat dan iblis di sebelah bahunya.

“Seperti apa misalnya? Menggugurkan kandungan ini?” Wanita itu melanjutkan kalimat pasangannya sambil melirik sedikit ke arahnya. Dia bisa memahami maksud pasangannya ketika melihatnya sedang memandang pisau cutter di pasir.

“Aku tidak akan melakukannya meskipun kau memaksaku. Aku melakukan semua ini kerena cinta dan aku mengorbankan perbedaan kita karena cinta. Ini semua hasil dari buah cinta kita selama tiga tahun ini. Kau harus bertanggung jawab; paling tidak, bertanggung jawablah kepada anakmu! Kalau kau memaksaku untuk mengugurkan kandungan ini, sebaiknya kau membunuhku juga,” kata wanita itu. Dia mengatakannya dengan sedikit kecewa.

“Membunuhmu? Apa menurutmu aku mampu melakukannya?” tanya pria itu sambil tertawa cemas.

“Aku mengenalmu selama tiga tahun ini, jadi bukan hal yang sulit bagiku untuk menebak pikiranmu,” ungkap wanita itu. Dia lalu menatap pasangannya dengan wajah kosong. Yang ditatap terlihat cemas dan kebingungan, tidak tahu bagaimana harus menanggapinya.

Langit sore semakin meredup dan matahari menjauhi mereka, seperti ingin meninggalkan mereka berdua dalam kegelapan. Suasana pantai mulai sepi. Beberapa orang terlihat baru datang ingin menyaksikan sunset di pantai. Sementara yang lain terlihat bergegas pulang. Suara orang-orang berganti menjadi suara alunan ombak laut.

Kedua pasangan itu terdiam. Mereka menyadari bahwa waktu yang mereka miliki hampir habis sementara belum ada keputusan terbaik untuk mereka, terutama untuk janin yang dikandung wanita itu.

Cinta memang menghanyutkan, seperti arus ombak yang perlahan namun bisa menyeret dan menenggelamkan. Karena cinta, segala hal buruk menjadi indah, perbedaan menjadi variasi, kekurangan menjadi pelengkap. Namun, perbedaan agama, tidak selalu bisa disatukan dalam cinta, bagaimana tidak; mungkinkah seseorang mengorbankan Tuhan-nya untuk kekasihnya? sementara kuasa jodoh ada di tangan Tuhan.

“Sudah hampir gelap, aku harus pulang,” kata pria itu, seperti membuat percakapan penutup dengan pasangannya.

“Pulanglah. Aku masih ingin di sini bersama anakku.” Wanita itu menjawab sambil memegang perutnya, wajahnya kosong menatap ke arah laut.

“Jangan memasang wajah seperti itu. Ayolah, aku akan mengantarmu pulang,” kata pria itu sambil mengambil tas ranselnya.

Yang diajak pulang tetap diam mematung. Melihat hal tersebut, pria itu berkata, “kita akan membahas hal ini lagi, besok. Sambil menunggu, kita bisa memikirkan keputusan terbaik malam ini.”

“Pulanglah! Aku akan memikirkannya sendiri,” bentak wanita itu. Suaranya mulai serak dan dia mulai menangis. Ditatapnya pria itu dengan mata basah. “Keputusan terbaik itu hanya untukmu. Malam ini kau hanya akan memikirkan bagaimana cara menyingkirkan anak ini, atau bagaimana cara meninggalkanku.”

Pria itu menunduk malu. Dia terlalu mudah ditebak oleh pasangannya. “Aku minta maaf. Tapi aku harus pulang. Kalau kau ingin tetap di sini, tidak apa-apa. Telpon aku kalau kau sudah di rumah.” Pria itu lalu pergi meninggalkan pasangannya sendirian. Setelah beberapa langkah, dia berhenti sejenak dan menoleh berbalik. Wanita itu masih di sana, di bawah pohon dan menatap ke arah laut. Dia lalu melanjutkan langkahnya untuk pulang.

Dia menangis sedih sambil memegang perutnya. Wanita itu menangis sendirian di tepi pantai, dibawah pohon tempat dia duduk semenjak tiba tadi. Dia mengambil pisau cutter yang tergeletak di pasir pantai. Dalam hatinya, dia berkata -kau pria pengecut! Bahkan untuk mengambil keputusan terburuk pun, kau tidak mampu melakukannya.

Langit berubah hitam, malam pun menyelimuti pantai dengan kegelapan. Suara ombak menyamarkan tangisan wanita itu. Dia menggenggam pisau cutter itu dengan kuat. Tangan yang lainnya memegangi perutnya, merasakan gerakan-gerakan kecil yang ada di dalam perutnya.-Maafkan ibu, nak. Maafkan kedua orang tuamu ini yang telah membawamu ke dunia yang penuh dengan ego. Siapapun Tuhanmu, sampaikanlah bahwa ini kesalahan orang tuamu. Siapapun Tuhan mu, ibu tetap mencintaimu.

Di rumah, pria itu beristirahat dan berbaring di atas kasurnya. Sesekali dia melihat ponselnya, berharap ada kabar dari kekasihnya, namun tidak ada kabar apapun yang dia terima malam itu. Lalu dia mencoba menghubungi ponsel kekasihnya; tidak ada jawaban. Dia mulai khawatir. Waktu sudah memasuki tengah malam. Dia mulai cemas lalu dia beranjak dari atas kasur, mengambil jaketnya dan memutuskan untuk menjemput kekasihnya.

Setibanya di pantai, pria itu tidak melihat siapapun di sana. Di bawah pohon masih ada tas kekasihnya, tapi di mana pemiliknya? dia menoleh ke sana-sini, berteriak memanggil namanya namun, hanya suara ombak yang menjawabnya. Dengan cemas dia duduk di bawah pohon. Sekilas dia melihat pisau cutter tergeletak di sana, lalu dia mengambilnya. Dia memperhatikan noda di mata pisaunya dan mendadak ngeri ketika menyadari kalau itu noda bekas darah. Dia panik dan bingung. Di mana kekasihnya? Darah siapa ini? Dia berpikir,-apa aku harus melaporkan hal ini ke polisi? Ah, nanti dulu. Melihat situasinya, aku malah bisa menjadi tersangka, karena terakhir dia bersamaku.

Diambilnya tas kekasihnya dan dimasukannya pisau cutter tersebut ke dalam tas. Lalu dia pergi membawa tas tersebut meninggalkan pantai. Setelah cukup jauh, dia membuang tas tersebut di tempat sampah pinggir jalan, lalu kembali pulang menuju rumahnya dengan perasaan yang tidak tenang serta penuh tanda tanya.


“Mas? Bangun.” Sebuah suara membawaku kembali sadar. Ternyata aku tertidur di bawah pohon. Seorang bapak melihatku sambil membawa karung berisi sampah. Bapak itu ternyata petugas kebersihan pantai.

“Sudah sore mas, hampir malam. Berbahaya tidur di pantai,” kata bapak itu sambil memungut beberapa sampah di pasir pantai lalu kemudian memasukannya ke dalam karung.

Masih dalam keadaan setengah sadar, aku menanggapinya. “Iya, pak. Terima kasih. saya ketiduran tadi.”

Bapak itu pergi menjauhiku. Aku berdiri, menggeliat dan menguap. Tidak terasa aku tertidur selama itu. Aku bersiap akan meninggalkan pantai, tapi tiba-tiba aku teringat ukiran nama di pohon tempatku bersandar tadi. Aku memperhatikannya dan meraba ukiran tersebut. Aku sangat mengenal dua nama itu, mereka berdua sahabatku. Yang aku tahu, pria itu sekarang berada di luar negeri melanjutkan kuliah S2-nya, sedangkan yang wanita, sampai saat ini tidak ada yang tahu keberadaannya.

Aku masih ingat setelah kejadian tersebut, tidak lama muncul berita orang hilang di surat kabar dan media. Informasi yang ada saat itu, mereka berdua bertemu dan berpisah di pantai ini. Tidak ada bukti kuat penculikan atau pembunuhan. Pria itu bersih dari hasil pemeriksaan polisi, juga beberapa saksi yang melihat mereka saat itu, menguatkan alibinya.

Terima kasih (ide cerita): Mey Shinta Al Sandhi dan Neni Wijayanti (pohon besar di pantai Kuta, Bali – Sunset Tanah Kuta)

Leave a Reply

Your email address will not be published.