Pria Tua dan Mimpinya

Orang tidak akan menilai dari apa yang ingin kau lakukan, akan tetapi orang menilai dari apa yang sudah kau lakukan.

Pagi Yang Cerah
Di pagi yang cerah, seorang pria tua berumur sekitar 50 tahun, bangun dari tidurnya. Dia menuju meja makan, membuka tudung saji dan melihat nasi beserta lauk-pauk yang ada. Melihat semua itu, dia mengambil piring lalu duduk untuk makan.

Pria itu hidup sendirian. Istrinya meninggalkannya sepuluh tahun yang lalu. Dia ditinggalkan karena beberapa karakter yang tidak bisa diterima oleh istrinya; tidak bekerja dan menghabiskan waktunya untuk tidur, selalu berpura-pura sakit hanya untuk menutupi sifat malasnya, dan selalu menyalahkan orang lain atas ketidak mampuannya.

Anak-anaknya sudah dewasa dan masing-masing dari mereka sudah berumah tangga. Semenjak istrinya pergi, pria tersebut menitipkan anak-anaknya di beberapa tempat yang bisa menampung mereka hingga dewasa, sementara dia memilih kehidupan bebas dan tenang tanpa beban tanggung jawab sebagai kepala keluarga.

Dia makan cukup rakus. Setelah habis sepiring nasi, dia masih mengambil beberapa lauk untuk digado, lalu membuka kaleng kerupuk yang ada dan menghabiskan hampir setengah kaleng. Sangat berlawanan dengan ceritanya kepada setiap orang, bahwa dia memiliki penyakit asam lambung yang membuatnya sulit makan banyak. Setelah selesai makan, dia bersandar di kursi makan karena Kekenyangan. Sesekali dia bersendawa dengan keras seperti rasa bersyukur atas nikmatnya makanan saat itu.

Dia bangkit dari kursi makan dan meninggalkan piring bekas makan begitu saja di meja makan. Dia tahu kalau salah satu anaknya akan datang setiap sore untuk menjenguk dan melihat keadaannya, dan sudah menjadi rutinitas anaknya membersihkan meja bekas makannya, dan menyiapkan makan malam untuknya nanti.

Perut kenyang membuatnya sulit berjalan, namun dia berkata kepada orang lain bahwa itu salah satu penyakit asam urat yang dia derita.

Cuaca pagi itu sangat cerah dan cukup menyenangkan untuk melakukan aktivitas yang menarik. Pria tua itu berjalan ke kamar tidur, merapikan kasur, menata bantal lalu kembali tidur. Beberapa orang pernah menanyakan kenapa dia melakukan hal tersebut setiap pagi; tidur di pagi hari sampai istrinya pergi meninggalkannya. Jawaban yang dia berikan, karena dia mengidap penyakit diabetes yang menyebabkan dia mengantuk setiap saat.

Anak-anaknya pernah membawanya ke dokter untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit yang dikatakan pria tersebut. Namun, hasil diagnosa dokter menyatakan dia sehat dan tidak mengidap penyakit apapun. Karena alasan dokter tersebut, pria itu mengatakan kalau dia hanya mengalami tekanan pikiran karena ditinggalkan istrinya. Stress dan tekanan kehidupan membuatnya sakit meskipun tidak bisa dianalisa secara medis.

Memasuki Siang
Waktu beranjak siang. Orang-orang yang bekerja di proyek bangunan dekat rumah pria tua itu, memasuki masa istirahat dan bersiap untuk makan siang. Mereka bercerita tentang pekerjaan, mengobrol santai atau bercanda tawa untuk mengurangi rasa lelah mereka.

Matahari siang memanasi mereka dengan sinarnya yang terang sehingga menimbulkan peluh keringat deras di badan mereka. Beban pekerjaan juga memaksa otot mereka untuk tetap berada dalam kondisi prima.

Mereka makan siang dengan lahap karena lelah setelah bekerja. Meskipun dengan menu ala kadarnya, mereka merasakan kenikmatan layaknya menu istimewa dan mereka makan tidak terlalu banyak karena, setelah istirahat mereka harus kembali bekerja. Terlalu kenyang tidak baik untuk pekerjaan berat mereka.

Kembali kepada pria tua tadi. Hiruk pikuk keramaian tidak mengganggu tidur paginya yang lelap. Entah mimpi apa yang di alaminya di sana, terlihat dia tidur sangat nyaman seperti layaknya seorang bayi yang terlelap. Perutnya mulai merasakan rasa lapar. Dia membuka matanya dan berpikir tentang efek penyakit darah tinggi membuat matanya berkunang-kunang; tapi bukankah itu hal yang wajar terjadi pada setiap orang ketika bangun tidur? Karena mata membutuhkan penyesuaian dengan cahaya.

Rasa lapar di perutnya megingatkannya untuk makan. lagi-lagi dia berpikir tentang penyakit. Kali ini penyakit asam lambung yang membuat perutnya sakit. Lalu kemudian dia minum segelas air dan berangkat menuju meja makan seperti pagi tadi; makan dengan cara yang sama.

Makan siang telah selesai. Dia bersendawa beberapa kali ditambah dengan menguap yang bersemangat dengan suara yang keras, seperti ingin menunjukkan betapa hebat rasa mengantuknya. Dia melihat keluar jendela. Ada beberapa kuli bangunan bekerja penuh keringat dan bersemangat. Mereka bekerja terlihat tidak merasakan lelah meskipun semua tahu betapa melelahkannya pekerjaan mereka. Pemandangan di luar jendela itu justru membuat pria itu seperti merasakan lelah mereka. Dia lalu kembali menuju kasurnya, menata bantal dan kembali menjemput mimpinya.

Beranjak Sore
Terik matahari siang mulai berkurang dan berganti dengan lembutnya cahaya sore. Para pekerja bangunan beristirahat sejenak, sambil membereskan peralatan mereka sebelum akhirnya mereka pulang. Badan mereka lelah, namun senyum dan gurauan mereka menunjukan betapa mereka menikmati hari mereka saat itu. Dari wajah mereka terlihat harapan akan pulang dan bertemu dengan keluarga mereka dengan membawa upah hari itu.

Pria tua itu masih terlelap. Di dalam mimpinya terbentuk gambaran yang indah. Dia menjadi pengusaha yang sukses, dikelilingi banyak wanita dan harta benda. Dia dijuluki dermawan karena dengan mudahnya dia mengeluarkan bantuan. Menjadi terkenal karena banyaknya keahlian yang dimilikinya. Mimpi itu sangat indah dan terkadang dia masih membawanya ke alam nyata.

Menjelang petang, anak laki-lakinya mampir ke rumahnya seperti biasanya. Setelah selesai bekerja, anaknya selalu singgah dan beristirahat sejenak; terkadang membereskan beberapa hal di sana seperti membersihkan sisa makan siang orang tuanya, menyapu lantai, membuang sampah, dan mencuci pakaiannya di mesin cuci.

Pria tersebut masih terlelap, sampai dia merasakan lapar di perutnya. Ketika membuka sedikit matanya, dia melihat anaknya sedang mencuci piringnya. Dia duduk dan bangun dengan enggan serta rasa malas, sehingga terlihat seperti sedang sakit ketika berjalan dengan lambat. Sesekali dia meringis seperti menahan rasa sakit dan mengeluh tentang berbagai macam penyakit ciptaannya. Mendengar hal tersebut, anaknya tidak mengatakan sepatah kata pun. Sudah banyak uang yang dikeluarkan untuk ke dokter, dan sudah banyak pula obat yang dibuang oleh pria tersebut, karena pada dasarnya, untuk apa minum obat jika kita hanya berpura-pura sedang sakit?

Anaknya meletakkan lauk-pauk makan malam di meja makan dan dan menanak nasi untuk makan malam ayahnya. Pria tersebut duduk di meja makan menunggu nasi matang dan mengambil sedikit lauk untuk mengganjal rasa laparnya. Dia mengigit setengah lauk dan meletakkannya kembali di meja makan. Dengan mulut penuh makanan dia bercerita tentang berbagai hal di masa lalu. Suaranya tidak terdengar dengan jelas, karena dia bercerita sambil mengunyah makanan. Anaknya pun tidak merespon dengan kata atau kalimat apapun, karena cerita tersebut adalah cerita lama yang sering diulang-ulang semenjak dia masih kecil. Mungkin hanya di dalam cerita tersebut hal baik dan indah yang pernah dilakukan oleh pria tersebut. Sisanya dia melanjutkan ceritanya di dalam mimpinya setiap hari.

Setelah nasi matang, pria tua itu langsung mengambil piring untuk makan malam. Anaknya pamit dan segera kembali ke rumah istrinya. Pria tua itu tidak begitu peduli dengan makan malam keluarga. Selain itu kebiasaan makannya yang kurang etis, membuat orang menghindari makan malam bersamanya. Bukan masalah besar baginya selama ada makanan yang cukup untuk membuat perutnya tetap kenyang. Dia lalu mulai makan malam dengan cara yang sama seperti biasanya.

Selamat malam, selamat beristirahat
Tidak banyak yang bisa dilakukan pada malam hari kecuali beristirahat. Pekerja bangunan tadi bermain dan bersenda gurau bersama keluarganya.

Setelah makan malam bersama, mereka berkumpul di rumahnya yang sangat sederhana. Wajah mereka ceria dan terlihat bahagia. Bisa digambarkan bagaimana masa tua pekerja bangunan tersebut; hidup menua bersama istri dan anak-anaknya yang akan menjaganya nanti ketika dia tua. Keindahan masa tua yang didambakan semua orang.

Tidak banyak yang bisa dilakukan pada malam hari, oleh pria tua itu selain kembali ke kasurnya. Perutnya yang kekenyangan membuatnya sulit berbaring. Dia membuat suara menguap yang keras dan melamun sesudahnya. Membayangkan betapa indah masa tuanya. Tidak harus bekerja berat di masa muda, tidak harus memikirkan keluarga namun keluarganya yang memikirkan dan mengurusnya. Dia tidak peduli bagaimana dia bisa ditinggalkan oleh istrinya, sebab dia bisa mendapatkan banyak wanita di dalam tidurnya nanti, tidak begitu penting apa yang dikatakan orang lain terhadapnya, sebab dia punya kehidupan indah dalam mimpinya. Lalu kemudian dia kembali menata bantal dan kasurnya, dan bersiap menemui hal indah di dalam mimpinya.

Ponorogo, awal Romadhon 2021

2 comments

  1. Emang gak bosen ya pak gitu mulu hm gemoy nie sama pak tua nya.. bagus tulisan nya jadi bisa ngerasain apa yg diceritakan meskipun ceritanya sederhana ,,,

Leave a Reply

Your email address will not be published.