Misteri Suara Kuda Delman

Bab 1, Suara Kuda Delman.

Jam sudah menunjukan pukul sebelas malam, tapi tugas makalahku belum juga selesai. -Sungguh terlalu, ini dosen. Memberikan tugas yang sulit, pikirku. Sesekali aku mengetik kalimat di laptopku, setelah membacanya aku menghapusnya lagi karena menurutku kurang sesuai. Jenuh, akhirnya aku coba browsing di internet untuk mencari referensi tambahan.

Sudah hampir satu jam aku membaca beberapa artikel di internet. Mataku mulai mengantuk dan aku mulai sering menguap. Aku harus beristirahat, pikirku. Tiba-tiba, aku mendengar sesuatu, seperti sebuah suara ‘gemerincing’. Aku memejamkan mataku, mencoba untuk fokus ke suara tersebut. Suara tersebut sayup-sayup semakin jelas terdengar, seperti suara lonceng kecil -ah bukan, tapi lonceng kalung kucing, ya seperti itu. Biasanya, pada leher kalung kucing peliharaan, terdapat lonceng yang berbunyi gemerincing ketika kucing tersebut bergerak. Tapi tunggu dulu, ini agak berbeda. Suara gemerincing itu sedikit lebih keras dan iramanya memantul secara teratur. Sebentar -ugh, aku berpikir keras. Rasanya aku kenal suara ini, tapi suara apa?

Akhirnya aku tahu. Ini suara DELMAN. Sebuah kereta kuda, seperti yang biasa terdapat di tempat wisata atau di alun-alun kota Jogjakarta. Tapi jam segini-, aku melihat ke arah jam di dinding, dan waktu menunjukkan sudah lewat tengah malam. Lagipula, belum pernah ada kereta kuda yang lewat di sekitar sini.

Karena penasaran, aku mengintip melalui tirai jendela dan memperhatikan keadaan di luar. Suasana di luar sana terpantau sepi dan tidak ada aktivitas apapun. Tapi suara itu terdengar seperti tidak jauh dan seperti sedang berputar-putar di sekitar sini. Sekali lagi, aku memperhatikan keadaan di luar rumah, melihat sekitar, namun tidak ada apa-apa di luar sana. Pemandangan di luar hanya nampak sinar redup dari penerangan lampu jalan. Pohon-pohon di trotoar jalan terlihat diam dan kaku tanpa adanya angin, malam itu.

Suara tersebut masih terdengar dan seperti menjauh. Karena tidak menemukan apapun dari apa yang aku lihat, akhirnya aku kembali duduk di depan meja belajarku dan kembali membaca artikel di internet, sambil berusaha mengabaikan suara gemerincing tersebut.

Aku tinggal di sebuah perumahan di pinggiran kota Jakarta, bersama dengan ibuku. Kami hanya tinggal berdua karena aku anak tunggal, dan ayahku telah meninggal dunia semenjak aku masih kecil. Dulu, ketika ayah masih hidup, beliau sangat menyukai kesenian adat Jawa seperti wayang, gamelan, keris dan segala hal yang bersifat seperti keraton. Kami dulu tinggal di daerah Jogjakarta. Setelah ayah meninggal, ibu bekerja dan membeli rumah di kota Jakarta.

Aku kemudian mulai tumbuh dan besar di Jakarta. Barang-barang koleksi peninggalan ayah, kini menjadi pajangan di rumah. Beberapa keris menempel di dinding ruang keluarga, dibawahnya terdapat sebuah gong berukuran sedang. Di ruangan lainnya, satu set alat musik gamelan di letakan di pojok ruang tamu bersama beberapa tokoh wayang kulit.

Malam semakin larut. Aku mematikan laptop dan beranjak ke atas tempat tidur untuk beristirahat. Lampu kamar sudah aku padamkan dan suasana kamar sudah gelap. Baru saja aku memejamkan mata, mencoba untuk tidur, tapi sesuatu membuatku tersadar lagi. Suara itu masih ada! -Sial, dari mana sih, sumber suara itu? dengan kesal aku mencoba berpikir tentang sumber suara tersebut. Mungkin kah, hanya suara televisi tetangga? atau dari radio? tidak mungkin, suara ini terlalu nyata. Jelas terdengar suara itu seperti bergerak mendekat dan menjauh, lalu kemudian mendekat lagi. Seperti sedang berputar-putar di sekitar perumahan ini.

Masih diliputi rasa penasaran, mungkin sebaiknya aku memberi tahu Ibuku.

…Suara tersebut terdengar naik-turun berirama, kadang mendekat lalu menjauh…

Aku mengetuk pintu kamar ibuku. Tidak lama kemudian, ibu muncul dengan wajah heran. “Ada apa sih, malam-malam begini?” tanya ibuku sambil menggaruk-garuk kepalanya.

“Itu bu, coba dengar… suara itu, dari mana sih datangnya?” jelasku sambil melirik ke atas, mencoba fokus ke suara tersebut.

Ibuku mengerutkan dahinya sambil menatapku. “Suara apa? ibu tidak mendengar apa-apa selain suaramu barusan.”

Ibuku benar. Suara itu tiba-tiba menghilang. Aku coba menunggu sebentar dan berusaha fokus mendengar suara itu, tapi suara tersebut sudah hilang.

“Tapi, tadi ada suara… mirip suara delman, bu. Dan, suaranya jelas kok.” Aku berusaha meyakinkan ibuku.

“Apapun itu,- yang penting sekarang sudah hilang, kan?” jawab ibuku. Dia lalu menambahkan, “Sudah, sana tidur. Besok kamu harus kuliah dan ibu harus kerja.” Dia mengibaskan tangannya, lalu kemudian menutup pintu kamarnya.

Ya sudah-lah, seperti kata ibuku, -yang penting suara tersebut sudah hilang. Aku kemudian kembali menuju kamarku dan bersiap untuk tidur.


Bab 2, Suara Musik Gamelan.

Keesokan harinya. Pagi-pagi sekali, ibu sudah berangkat kerja lebih dulu untuk menghindari kemacetan. Sementara aku, malah baru bangun dan bersiap untuk mandi. Tidak biasanya aku bangun kesiangan. Gara-gara tugas kuliah aku jadi tidur lebih larut. Dan jangan lupa, suara delman semalam juga membuatku sulit tidur. Aku masih penasaran, apakah itu benar suara kereta kuda atau suara lainnya.

Setelah mandi dan rapi, aku sarapan. Sebelum berangkat kerja, ibu selalu sempat menyiapkan sarapan untukku. Ibu memang orang tua yang luar biasa sebagai single parent. Selain harus bekerja demi mencukupi kebutuhan keluarga serta biaya kuliahku, beliau juga sempat mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Terkadang aku berpikir, kenapa ibu tidak menikah lagi saja? Secara pribadi, aku tidak masalah jika ibu ingin menikah lagi.

Aku bersiap berangkat ke kampus. Sebelum berangkat aku melewati kamar ibu dan berhenti di depan pintu kamarnya. Aku seperti mendengar sesuatu. Aku menempelkan telingaku di pintu kamarnya. Sebuah suara alunan musik gamelan, terdengar lirih namun jelas. Aku penasaran dan mengetuk pintu kamar ibu; tapi tidak ada jawaban, dan suara alunan musik gamelan tersebut juga berhenti. Ini sangat konyol, pikirku. Sudah jelas tidak akan ada jawaban, ibu sudah berangkat lebih dulu. Ah sudah-lah, biarkan saja. Nanti aku bisa menanyakan hal ini pada ibu.

Aku kemudian beranjak pergi, tapi lagi-lagi langkahku terhenti. Kali ini di ruang tamu, aku mendapati pemandangan yang berbeda. Satu set gamelan kecil yang ada di pojok ruangan, telah menghilang. Akhirnya aku memeriksa sekitar ruangan, melihat kunci jendela dan pintu. Semua baik-baik saja, tidak ada yang rusak. Lagipula, jika ada pencuri, untuk apa hanya mengambil sebuah alat musik gamelan? Aku jadi teringat suara gamelan yang baru saja aku dengar, di kamar ibu tadi.

Aku mencoba mengirimkan pesan kepada ibu menanyakan soal kejadian pagi ini. Aku tidak meneleponnya karena tidak ingin mengganggu ibu yang sedang bekerja. Setelah pesanku terkirim, aku bergegas keluar rumah dan mengunci pintu. Aku segera berangkat ke kampus. Aku sudah terlambat, pikirku.


Di kampus ketika jam makan siang di kantin, aku bertanya kepada beberapa temanku tentang kereta kuda di kota ini. “Apa di kota ini, masih ada kendaraan delman? atau apapun itu yang ditarik dengan seekor kuda?” tanyaku kepada mereka.

Mereka tertegun heran. “Eh, kenapa kamu tanya itu? rasanya sudah tidak ada, karena delman bisa menyebabkan kemacetan di jalan raya.” Salah satu dari temanku menjawab, sementara yang lain mengangguk mengiyakan jawaban tersebut.

“Tadi malam aku mendengar suara, seperti kereta kuda di sekitar perumahanku. Kira-kira tengah malam.” Aku mencoba menjelaskan alasanku bertanya, kepada mereka.

“Hal itu tidak mungkin. Banyak faktor untuk menyanggah kemungkinan itu terjadi. Pertama, untuk apa delman tengah malam lewat perumahan? Dan yang kedua, dari mana kau tahu itu suara delman, jika kau tidak pernah melihat sumber suara itu secara langsung.” Temanku menjelaskan.

“Apa ada orang lain atau tetanggamu yang memelihara kuda di daerah perumahanmu?” Yang lain menambahkan, sambil tertawa.

“Ya, kalian benar.” Aku mengangguk mendengar penjelasan mereka, kemudian menambahkan, “aku memang belum melihat secara langsung, hanya mengira itu suara delman karena memang suaranya mirip seperti itu. Selain itu, rasanya tidak ada yang memelihara kuda di perumahan kota; terlalu aneh.” Setelah aku berkata seperti tadi, kami semua tertawa.

Tiba-tiba ponselku berbunyi. Sebuah pesan dari ibuku, masuk. Aku membaca pesan itu; -gamelan yang ada di ruang tamu? Iya, ibu memindahkannya ke kamar ibu. Tadinya, mau ibu bersihkan tapi tidak sempat. Jangan khawatir, semua baik-baik saja.

Setelah membaca pesan tersebut, aku sedikit tenang karena salah satu misteri terjawab. Tapi masih ada satu lagi; suara musik gamelan di kamar ibu? Haruskah aku menanyakan hal itu juga, kepada ibu? Hm… sebaiknya jangan. Hal itu hanya akan mengganggu ibu bekerja nanti. Atau, aku bisa mendiskusikan tentang suara gamelan itu pada teman-temanku ini? Jelas sekali, mereka akan menganggapku paranoid dan mereka bisa tertawa lebih keras nanti. Aku akhirnya memutuskan untuk merahasiakan tentang suara gamelan tersebut.

Di kelas, aku tidak bisa sepenuhnya berkonsentrasi pada materi kuliah yang diberikan oleh dosenku. Selain masih mengantuk, aku juga kepikiran tentang suara delman tadi malam, juga suara gamelan di kamar ibu pagi ini. Aku sangat yakin kalau aku mendengarnya. Bahkan, aku masih ingat alunan nada musik gamelan tersebut. Bagaimana mungkin jika aku berhalusinasi, aku bisa membayangkan nada seindah itu. Kejadian tadi malam serta pagi ini cukup mengganggu konsentrasiku, karena aku belum menemukan jawabannya.


Bab 3, Isi Kamar Ibu.

Sorenya, aku tiba lebih dulu di rumah. Biasanya, ibu pulang menjelang petang. Jika tiba di rumah, ibu langsung memasak secara kilat untuk makan malam, lalu kemudian pergi mandi dan akhirnya beristirahat. Bahkan sebelum mandi, ibu masih sempat mencuci baju di mesin cuci, menjemur pakaian di halaman belakang, dan mengerjakan beberapa pekerjaan rumah tangga ringan lainnya.

Aku sendiri senang membantu ibu. Sore setelah pulang dari kampus, aku menyapu halaman depan, membersihkan rumah serta mengangkat jemuran. Aku dan ibu saling membantu satu sama lain dalam pekerjaan rumah tangga. Kadang aku pernah membayangkan, apakah ibu pernah merasakan kesepian di dalam hidupnya? Aku sendiri kadang membayangkan sosok seorang ayah di dalam kehidupan dewasaku.

Ketika menyapu halaman depan, aku teringat suara delman tadi malam. Aku memperhatikan jalan di depan rumah, melihat ke ujung jalan dan mencoba membayangkan ada sebuah delman yang bergerak. Aku membayangkan, bagaimana delman tersebut berputar-putar di sekitar jalan ini. Jika seperti itu bayanganku, mestinya ada orang lain yang mendengarnya, apalagi ini di sebuah perumahan.

Di dalam rumah, aku membersihkan ruangan. Aku mengelap beberapa barang peninggalan ayah yang menjadi hiasan rumah. Aku mengambil sebuah keris lalu mengeluarkannya dari sarungnya. Pada bilah mata keris, terdapat ukiran huruf jawa kuno; entah apa artinya. Ketika memperhatikan keris tersebut, aku seperti merasa ada seseorang berdiri di belakangku. Aku menoleh dengan cepat, dan tidak ada siapapun di sana. Aku memasukkan keris tersebut, dan meletakkannya kembali di dinding.

Aku jadi teringat suara gamelan tadi pagi. Akhirnya aku ingin menghilangkan rasa penasaranku. Aku berpikir bagaimana caranya menemukan jawaban tentang semua yang terjadi tadi malam dan pagi ini. Aku yakin sekali kalau aku tidak sedang berhalusinasi.

Dari dulu, ibu selalu mengunci kamarnya jika dia pergi. Bahkan, meskipun dia ada di rumah, jika dia sedang tidak di kamar, dia tetap menguncinya. Seperti ada hal yang berharga di dalam kamar tersebut, atau mungkin- ada sesuatu yang dia tidak ingin orang lain melihatnya; termasuk aku. Oleh karena itu, aku ingin menghilangkan rasa penasaran ini. Aku mengambil tangga lipat dan meletakkannya di depan pintu kamar ibu. Menurutku tidak masalah jika aku mengintai kamar kosong orang tuaku sendiri. Aku mulai memanjat dan memperhatikan isi kamar tersebut melalui ventilasi udara di atas pintu.

Selama ini aku baru tahu seperti apa sebenarnya kamar ibu. Selain karena sering tertutup dan terkunci, aku pikir tidak ada hal menarik yang perlu aku ketahui. Tapi sekarang hal ini malah menarik. Kamar ibu terlihat klasik. Sebuah tempat tidur kuno dengan kelambu anti nyamuk, meja rias dengan kaca besar, bahkan di meja tersebut terdapat kendi tanah liat untuk minum. Aku heran, bagaimana bisa aku tidak mengetahui hal tersebut selama ini? Dan gamelan mini itu, ada di sana, di lantai dekat kasur. Di sebelahnya terdapat nampan bundar dari bambu berisikan berbagai macam kembang. Untuk apa kembang tersebut? aku berpikir, kata ibu tadi ingin membersihkannya. Apa membersihkan gamelan dengan kembang? Aku pernah tahu cara mencuci keris dengan air kembang, tapi aku tidak pernah melihat ibu melakukan hal tersebut.

Di pojok kamar ibu, ternyata ada sebuah lukisan besar. Aku memperhatikan gambar lukisan tersebut. Sebuah kereta kuda yang terlihat seperti sedang keluar dari tengah lautan pasang berombak. Kereta tersebut ditarik seekor kuda dan tanpa ada seorang kusir di kereta tersebut. Kereta itu kosong tanpa penumpang. Tiba-tiba aku jadi membayangkan suara delman tadi malam.

Aku turun dari tangga, dan mengembalikan tangga tersebut ke tempatnya semula. Aku masih tertegun dengan pemandangan di kamar ibu tadi. Apa perlu aku bertanya pada ibu tentang apa yang aku lihat tadi? Tapi bagaimana reaksinya nanti, jika dia tahu aku telah ‘mengintip’ isi kamarnya? Bukankah ‘ditutup’ itu memiliki arti ‘tidak boleh dilihat’. Apa dia akan marah atau aku malah akan mendapatkan jawaban? Yang jelas, aku tidak ingin mengecewakan ibu.


Bab 4, Menyelinap.

Saat makan malam, aku ragu-ragu apakah aku akan membahas apa yang tadi aku lihat di kamar ibu, atau tidak. Aku khawatir ibu akan marah karena aku melihat isi kamarnya. Tapi, bukankah tidak masalah bagi seorang anak, untuk mengetahui hal tersebut? Sikap ibu yang tertutup tentang kamarnya itu, yang membuat aku sungkan untuk membahasnya.

“Gimana kuliah kamu tadi?” Pertanyaan ibu mengawali percakapan di sela-sela makan malam kami berdua.

“Seperti biasanya, bu. Cuma di kampus, lalu pulang seperti biasanya,” jawabku datar.

“Kamu tidak sedang dalam masalah, kan?” Ibu bertanya lagi.

“Hm, tidak bu. memangnya, apa ada yang terlihat salah denganku?” Pertanyaan ibu barusan, membuatku ingin membahas kejadian pagi tadi, tapi aku masih memendamnya.

“Yah,- sikapmu tidak seperti biasanya,” kata ibuku menjelaskan.

“Tidak ada. Hari ini seperti biasanya, tidak ada masalah apa-apa,” jawabku dengan tenang. Namun, aku merasa seperti telah berbohong karena masih memendam pertanyaan untuknya.

Malam ini sangat sepi, meskipun masih belum larut. Suara percakapan kami berdua seperti, satu-satunya suara yang terdengar malam ini. Kami berdua mengobrol ringan sambil makan malam. Ibu memberikan nasihat seperti orang tua pada umumnya. Memberi tahu kalau aku harus tekun kuliah, sehingga kelak aku menjadi mandiri dan berhasil. Aku mendengarkannya dengan baik. Suaranya penuh wibawa dan menunjukkan sikap kedewasaannya sebagai orang tua.

Selesai makan malam, aku masuk ke kamar dan mengeluarkan laptopku. Aku ingin menyelesaikan beberapa tugas kuliah yang diberikan tadi pagi. Tapi, sepertinya ponselku tidak terlihat. Aku mencarinya di dalam tas, di atas kasur, dan di meja belajar, namun aku tidak berhasil menemukannya. Mungkin tertinggal di meja makan.

Aku kembali menuju meja makan, mencari ponselku di sana sambil melihat ke sekeliling ruang makan, tapi aku tidak menemukannya juga di sana.

“Ibu- apa kau melihat ponselku?” Tanyaku dengan suara agak keras, karena ibu juga tidak terlihat.

“Sepertinya ada di ruang tamu, tadi,” jawab ibuku dari kamar mandi. Ternyata ibu sedang mandi.

Aku menuju ruang tamu dan memang benar, ponselku tergeletak di meja ruang tamu. Setelah mengambil ponselku, aku kembali menuju kamarku. Tapi langkahku terhenti ketika melewati kamar ibu. Aku melihat pintu kamarnya sedikit terbuka, dan rasanya aku seperti melihat ada seseorang di sana.

Siapa itu, di sana? pikirku dengan cemas karena aku mengira ada pencuri yang masuk ke dalam rumah kami. Aku membuka pintu kamar dan hanya nampak pemandangan kosong. Tidak ada ada siapapun di sana. Ini aneh, sangat aneh. Tidak biasanya aku mengalami kejadian seperti ini. Apakah aku mulai berhalusinasi? Pertama, kejadian kemarin malam tentang suara delman, yang kedua, suara musik gamelan tadi pagi, lalu sekarang aku seperti melihat bayangan seseorang di dalam kamar ibu. Kenapa aku jadi seperti ini? Aku berpikir sejenak, dan mendadak aku memiliki ide untuk menjawab semua misteri ini. Aku harus mencari tahu, pikirku.

Aku masih bisa mendengar suara ibu yang sedang mandi, dan akhirnya aku memutuskan untuk bersembunyi di dalam kamar ibu. Aku mematikan nada dering di ponselku, untuk berjaga-jaga supaya tidak menimbulkan suara, lalu kemudian aku melihat ke sekeliling kamar, dan mencari tempat untuk bersembunyi. Akhirnya aku memutuskan untuk bersembunyi di bawah tempat tidur. Aku menyelinap ke kolong tempat tidur dan menunggu, menunggu sesuatu yang semoga saja bisa menjawab semua tanda tanya ini.

Setelah selesai mandi, ibuku masuk ke kamar dan menutup pintu; lalu menguncinya seperti biasa. Jantungku berdegup dengan kencang, nafasku terasa berat. Ini kali pertama aku melakukan tindakan bodoh dan konyol; bagaimana tidak, aku memata-matai ibuku sendiri, dan bisa dibayangkan apa yang akan terjadi jika ibu mengetahui tindakanku ini. Aku tengkurap agar bisa melihat sedikit keadaan di sekitar kamar. Keringat dingin terasa mengalir di tubuhku.

Ibuku duduk di kursi rias dan menghadap ke arah cermin. Dia masih mengenakan handuknya. Aku bisa melihat sedikit dia sedang mempersiapkan sesuatu. Apa yang aku lihat sungguh tidak biasa! Ibuku mengenakan pakaian seperti kain berwarna hijau. Kain itu membalut tubuhnya seperti kemban, dan dia mengenakan bawahan kain batik. Dia lalu merias dirinya, menggulung rambutnya dan mengenakan sanggul di kepalanya. Sosok yang aku lihat, ibu mirip seorang sinden jawa kuno. Tunggu dulu, entah kenapa aku jadi teringat sosok legenda jawa kuno yang bernama ‘Nyi Roro Kidul’. Sosok mahluk astral yang menguasai laut selatan pantai Jawa. Sosok legendaris tersebut identik dengan pakaiannya yang berwarna hijau.

Perasaanku sangat kacau; heran, aneh, ngeri, dan malu, bercampur aduk menjadi satu di dalam pikiranku. Kenapa ibu berdandan demikian? bukankah ibu mau tidur, dan bukan mau pergi kondangan? Untuk apa, dan untuk siapa, dia melakukan ini? Perlahan aku mengintip keluar, sehingga aku bisa melihat sedikit bayangan wajah ibu di cermin. Aku menjadi takjub dengan apa yang aku lihat. Wajah ibu terlihat berbeda! Dia nampak sangat muda dan cantik. Apakah itu efek riasan-nya? Sepertinya bukan. Tidak ada riasan mencolok yang bisa aku lihat. Tiba-tiba ibu bangkit dari kursi riasnya, dan dengan cepat aku menyembunyikan kepalaku. Aku menutup mataku karena bingung, takut dan cemas dengan apa yang aku lihat, dan yang sedang aku lakukan.

Ketika membuka mata, aku melihat punggung ibu sudah dalam posisi membelakangiku. Dia duduk bersimpuh di lantai kamar. Bau dupa yang menyengat mulai tercium olehku. Aku jadi bertambah ngeri. Aku melihat ibu memainkan beberapa nada gamelan mini itu sebentar. Dia lalu mengambil kembang yang ada di nampan bundar yang aku lihat pagi tadi, dia menaburkannya di atas gamelan tersebut. Ibu kemudian diam dan duduk dengan tegak. Dia seperti sedang bertapa. Aku tidak bisa berkedip karena terkejut dengan apa yang sudah aku lihat. Tidak lama kemudian, aku seperti mendengar sesuatu di luar rumah; suara delman itu, lagi! Suara itu muncul lagi.

Sebuah suara seperti kereta kuda, datang mendekat. Suara tersebut semakin jelas terdengar. Suara itu sangat jelas, dan akhirnya aku yakin kalau kemarin malam aku tidak sedang berhalusinasi. Suara itu memang ada, bahkan sekarang aku bisa mendengar suara tapak kaki kuda juga. Apakah ibuku juga mendengarnya? Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Apa yang sedang dilakukan oleh ibuku? Rasanya seperti, akan ada sesuatu yang datang. Jika benar, lalu siapa?

Jantungku berdegup dengan kencang dan tenggorokanku terasa kering. Sudah berulang kali aku menelan ludah sambil menunggu peristiwa apa yang akan terjadi selanjutnya.

Ibuku tiba-tiba berdiri dan duduk di atas kasurnya, menghadap ke arah pintu. Aku masih bisa melihat kedua kakinya di lantai. Lalu aku tersentak kaget karena aku melihat ada kaki seseorang di dalam kamar ibu, di dekat pintu. Bagaimana mungkin? Kapan orang itu masuk, dan kenapa aku tidak melihat pintu kamarnya terbuka? Lalu yang paling penting, siapa itu? Apa orang tersebut masuk tanpa melewati pintu? Kalau benar demikian, berarti sosok itu adalah… Aku tidak berani membayangkan karena merasakan kengerian yang nyata. Apa sosok tersebut ‘hantu?’ Kalimat tersebut mendadak muncul di dalam pikiranku dengan sendirinya.

Aku terdiam kaku, dan perlahan berusaha untuk semakin menyembunyikan tubuhku di bawah tempat tidur. Aku bisa merasakan badanku gemetar karena ketakutan. Lantai tempatku bersembunyi terasa dingin dan basah karena keringatku. Aku menarik napas dalam-dalam lalu kemudian, menghembuskannya dengan sangat perlahan. Sambil berusaha tetap tenang, aku memperhatikan kaki sosok tersebut. Aku hanya bisa melihat dari mata kaki sampai betisnya karena terhalang oleh tempat tidur di atasku. Dari apa yang aku lihat, sepertinya itu kaki seorang pria. Sosok itu berdiri diam tidak bergerak dan tidak bersuara.

“Kemarin malam, anakku mendengar suara kereta kudamu.” Ibuku berkata kepada sosok tersebut, dengan nada suara yang lembut dan terdengar setengah berbisik. Aku diam dan mencoba untuk fokus pada semua yang terjadi.

Yang diajak bicara tetap diam dan tidak bergerak sedikitpun. Ibu kemudian bangkit dan berjalan mendekati sosok tersebut, lalu kemudian berkata lagi, “Setidaknya, tunggulah sampai anakku tidur. Aku tidak ingin dia terganggu oleh kehadiranmu.”

Mereka berdua kemudian berbalik dan berjalan keluar kamar, tanpa melewati pintu! Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang telah aku lihat. Ibu dan sosok tersebut keluar kamar dengan menembus ruangan! Aku mencubit pipiku sendiri, berusaha meyakinkan diriku kalau aku tidak sedang bermimpi. Tidak lama setelah mereka berdua menghilang, suara kereta kuda itu terdengar lagi. Suaranya seperti berjalan menjauh dan perlahan menghilang, meninggalkan kesunyian serta kengerian untukku.

Masih di kolong tempat tidur, aku berpikir tentang mereka berdua. Kemana mereka pergi? Apakah mereka akan kembali? Kemana sosok itu membawa ibuku? Rasanya lebih baik jika aku keluar sekarang, dan memikirkannya di kamarku sendiri. Jika mereka kembali sementara aku masih di sini, aku bisa terjebak dan itu berbahaya. Aku akhirnya memutuskan untuk keluar dengan segera. Setelah yakin keadaan di kamar aman, aku keluar dari tempatku bersembunyi.


Bab 5, Lukisan.

Aku merayap keluar dari kolong tempat tidur dan melihat ke sekeliling kamar. Mereka benar-benar pergi. Aku duduk di atas kasur ibu sebentar, berusaha menenangkan diriku serta mengatur napasku. Jantungku masih berdegup tidak beraturan. Bau dupa masih tercium olehku sehingga aku melirik ke arah pembakaran dupa tersebut. Di dekat gamelan, dupa tersebut dibakar. Di atasnya, terdapat beberapa kembang.

Sepertinya aku perlu dokumentasi bukti untuk semua kejadian ini. Tiba-tiba saja aku memiliki ide tersebut. Kenapa baru sekarang terpikirkan? Seharusnya aku tadi merekam mereka dengan ponselku, dari awal aku bersembunyi tadi. Mungkin tadi aku terlalu tegang dan takut, sehingga tidak terpikirkan olehku untuk merekam mereka.

Aku mengeluarkan ponselku. Memotret keadaan ruangan kamar ibu dari sudut ruangan. Alat musik gamelan dan dupa, tidak luput dari kamera ponselku. Mataku tertuju pada lukisan di pojok kamar dan aku mendapati pemandangan yang menakutkan lagi. “Ini-, sangat aneh dan gila!” teriakku di dalam pikiranku. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi. Lukisan itu terlihat berbeda.

Sebelumnya, aku melihat lukisan itu berupa gambar kereta kuda yang keluar dari dalam lautan. Hanya ‘kereta kuda’. Tidak ada penumpang atau gambar seseorang di dalam lukisan tersebut. Tapi sekarang, aku melihat ada dua orang di dalam lukisan tersebut.

Aku memperhatikannya dengan baik ke dalam lukisan tersebut. Seorang wanita mirip ibuku, duduk di kursi belakang kereta tersebut. Wanita itu berpakaian seperti ibuku tadi, memakai kemban hijau juga bersanggul. Di bagian depan nampak seorang kusir pria memegang tali kuda. Yang janggal adalah, gambar pria tersebut dilukiskan tanpa kepala. Aku memotretnya dengan baik. Ini sangat penting, pikirku.

Setelah cukup mengambil dokumentasi, aku segera menuju ke arah pintu kamar, untuk segera pergi dari ruangan mengerikan ini. Ketika memutar gagang pintu, aku baru sadar kalau pintu kamar itu terkunci. Aku terjebak. Kemudian aku melihat ke segala arah untuk mencari jalan keluar yang lain. Akhirnya aku menuju jendela kamar ibu yang mengarah ke halaman belakang rumah. Aku membuka tirai dan jendelanya. Setelah berhasil keluar, aku menutup kembali tirainya serta jendela tersebut. Aku tidak boleh meninggalkan jejak.

Udara di halaman belakang terasa dingin dan dan segar, daripada di dalam kamar tadi. Bau dupa sudah hilang. Aku menghirup udara malam yang segar dalam-dalam, seperti ingin membersihkan hidungku dari bau dupa tadi. Angin kecil terasa lembut dan dingin, menyentuh badanku yang basah berkeringat. Aku melihat beberapa pakaian yang dijemur bergerak-gerak perlahan karena tertiup angin. Aku melangkah menuju pintu halaman belakang lalu kemudian masuk ke dalam rumah.

Di kamar, aku merasa tenang dan bisa mengendalikan diriku. “Aku sudah aman,” kataku pada diriku sendiri. Aku melepas pakaianku yang basah berkeringat, menggantinya dengan yang ada di lemari. Setelah itu, aku menyalakan laptopku dan memindahkan hasil dokumentasiku ke dalam laptopku.

Badanku terasa sangat lelah. Kepalaku juga terasa pusing. Aku harus tidur melupakan kejadian tadi, sejenak. Apakah mereka sudah kembali? Sepertinya belum, karena aku belum mendengar suara kereta kuda itu lagi. Jika mereka kembali, aku akan merekam mereka. Tapi kapan mereka kembali? Aku sudah mengantuk, besoknya aku harus kuliah. Apakah aku harus menunggu mereka? Bagaimana jika mereka tidak kembali malam ini?

Sambil berbaring di atas kasurku, aku memperhatikan foto-foto hasil dokumentasiku tadi. Yang menjadi pusat perhatianku adalah foto lukisan yang ada di kamar ibu. Aku sangat yakin kalau sebelumnya aku melihat lukisan itu hanya sebuah kereta kuda tanpa penumpang. Tapi foto yang ada di ponselku menunjukkan gambar dua penumpang, dan yang aneh adalah, kenapa kusirnya terlukis tanpa kepala? Setelah beberapa saat memperhatikan foto-foto tersebut, aku tidak sengaja tertidur karena sangat lelah dan pusing.


Ketika aku bangun, ternyata sudah pagi. Aku melihat jam, terlihat waktu telah menunjukkan pukul delapan. Aku langsung bangkit dan ke arah jendela. Di luar sudah terang. Beberapa aktivitas manusia terlihat seperti biasanya. Di dalam benakku, aku bertanya-tanya, “Apakah mereka sudah kembali? Apa ibuku sudah pulang?”

Sambil berusaha bersikap ‘tidak ada apa-apa’, aku keluar dari kamarku, dan langsung menuju ke ruang makan. Di meja makan, nampak sarapan sudah siap seperti biasanya, seperti yang dilakukan ibuku setiap pagi. “Apa dia sudah berangkat bekerja?” tanyaku pada diri sendiri.

Diam-diam aku menuju kamar ibuku. Bisa kulihat pintu kamarnya masih tertutup rapat. Rasanya ingin mengintip dan memeriksa ke dalam kamarnya seperti yang aku lakukan kemarin, tapi niat tersebut aku urungkan karena aku masih khawatir.

Setelah mandi dan sarapan, aku bergegas pergi ke kampus. Aku keluar rumah sambil melewati kamar ibuku. Aku melirik ke arah pintunya sambil pergi keluar dari rumah. Entah ibuku sudah kembali atau belum, aku akan memikirkannya nanti. Yang terpenting aku harus keluar dan menyimpan misteri ini sampai nanti malam, ketika ibu sudah di rumah (jika dia sudah kembali tentunya, entah dari mana).


Setibanya di kampus, aku seperti orang bingung setelah apa yang terjadi semalam. Materi yang dijelaskan oleh dosenku, tidak ada yang bisa aku pahami. Pikiranku masih tertinggal di rumah. Terlalu aneh dan sulit dipercaya ketika melihat semuanya dengan mataku sendiri. Aku masih bertanya-tanya, di mana ibuku saat ini; apa dia sudah kembali dan sekarang sedang bekerja, atau dia masih bersama mahluk yang membawanya, tadi malam? Siapa yang menyiapkan sarapan tadi pagi?

Pada jam istirahat, aku mengamati lukisan semalam di handphone-ku. Aku memperhatikannya dengan teliti. Wanita di dalam lukisan itu mirip sekali dengan ibu. Tapi siapa sosok yang tergambar tanpa kepala ini?

“Kamu sedang apa? Sepertinya ada hal menarik yang kamu lihat.” Salah satu temanku datang menghampiri dan ikut melihat handphone-ku.

“Lukisan yang bagus,” kata temanku tadi.

Aku memberikan handphone-ku pada temanku, dan berkata, “coba kau lihat, dan apa tanggapan mu tentang lukisan ini?”

Temanku menyipitkan matanya, mencoba mengamati gambar lukisan itu. “Lukisan ini indah dan penuh nilai seni. Tapi kenapa kusirnya dilukiskan tanpa kepala? Apa lukisan ini belum selesai?” Dia bertanya.

“Entahlah,” jawabku datar. “Aku sendiri masih bingung dengan lukisan itu.”

“Dari mana kau dapat gambar ini?” tanya temanku lagi.

“Aku memotretnya di kamar ibuku,” jawabku sambil meminta kembali handphone-ku. “Apa kau percaya dengan hantu? atau hal yang tidak masuk akal?” tanyaku.

Temanku biasanya langsung tertawa jika aku berkata demikian. Mereka menganggap hal ghaib hanyalah mitos, atau sekedar cerita masyarakat yang tidak pernah bisa dibuktikan. Tapi setelah melihat lukisan tadi, dan melihat wajahku yang nampak seperti orang linglung, dia menunjukkan wajah yang serius.

“Katamu tadi, kau dapat gambar itu dari kamar ibumu?” dia bertanya untuk meyakinkan. “Lalu, apa yang aneh dengan pertanyaanmu, tentang hantu tadi?”

“Kemarin sore, aku melihat lukisan itu hanya berupa kereta kuda, tanpa ada penumpangnya. Entah kau percaya atau tidak, tapi aku sangat yakin akan hal itu,” jelasku.

Aku kemudian mulai bercerita, “kemarin aku bertanya tentang kereta kuda, kan?” Temanku menganggukkan kepalanya. “Itu karena aku mendengarnya, dan tadi malam aku juga mendengar suara itu lagi.” Aku menambahkan.

“Ya, lalu hubungannya dengan lukisan itu?” tanya temanku, tambah penasaran.

“Aku mendengar suara kereta kuda itu tadi malam dan malam sebelumnya, ketika aku bersembunyi di kamar ibuku. Karena aku merasa ada yang aneh dengan ibuku. Aku melihat dia pergi dengan seseorang. Setelah mereka menghilang, suara kereta kuda itu juga perlahan menghilang entah kemana.”

“Menghilang bagaimana? apa kau tidak melihat mereka pergi?” Temanku tampak kebingungan.

“Kau percaya? aku melihat mereka keluar menembus pintu. Dan ketika aku keluar dari persembunyian, aku melihat lukisan itu seperti tadi. Padahal, sebelumnya lukisan itu hanya berupa kereta kuda tanpa penumpang.” Aku menjelaskan dengan sedikit malu, karena aku bercerita kalau aku mengintip ibuku sendiri.

“Hm… hal ini memang sulit diterima oleh akal. Tapi jika benar demikian, sebaiknya kau berbicara dengan ibumu.” Kata temanku memberi saran.

“Coba kau pikirkan lagi. Apa yang dilakukan oleh ibumu. Jika hal tersebut berbahaya, meskipun kau belum tahu seperti apa bahayanya, ini bisa jadi pencegahan,” kata temanku. “Dan yang paling penting, apa tujuan ibumu melakukan hal tersebut,” tambahnya.

“Aku akan mencobanya nanti. Tolong jangan ceritakan pada siapapun tentang hal ini. Kau tahu, aku bisa dianggap gila jika hal ini tidak bisa dibuktikan secara nyata dan jelas.” Setelah berkata demikian, temanku tersenyum dan menganggukan kepalanya.

Apa yang dikatakan temanku tadi memang benar. Aku harus tahu alasannya, kenapa ibu melakukan hal aneh tersebut. Lagipula, siapa sosok yang bersamanya semalam. Aku sebagai anak yang menyayangi ibunya, sudah sepantasnya merasa cemas dan khawatir. Tapi meskipun demikian, aku belum tahu bagaimana harus memulainya. Bagaimana mana cara aku bertanya. Bisa jadi ibu pura-pura tidak paham, seperti malam sebelumnya ketika aku bertanya tentang suara kereta kuda malam itu.


Bab 6, Cerita masa lalu.

Setibanya di rumah, aku melakukan aktivitas seperti biasanya; membersihkan rumah dan menyapu halaman. Semenjak pagi tadi aku belum mendengar kabar Ibuku.

Sambil bersih-bersih di dalam rumah, aku sesekali melirik ke pintu kamarnya. “Haruskah aku mengintip kamarnya lagi?” Berulang kali pertanyaan tersebut muncul di dalam benakku. Tapi, aku tidak berani melakukannya setelah apa yang aku lihat tadi malam. Mungkin sebaiknya aku menunggu sampai Ibuku pulang.

Ketika petang, perasaanku lega ketika mendengar seseorang datang di dalam rumah. Aku mendengar suara ibuku masuk ke dalam rumah; dan langsung menuju kamarnya. “Apa dia baru saja pulang kerja? Atau dia datang bersama sosok yang membawanya kemarin malam?” Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri.

Aku keluar dari kamarku sambil memperhatikan pintu kamarnya. Tidak lama kemudian ibuku keluar dari kamarnya dan membawa handuk. Sepertinya dia mau mandi.

“Kamu sudah makan?” Ibuku bertanya padaku ketika kami bertemu di Koridor.

“Belum, bu. Aku masih mau menelpon temanku,” jawabku sambil memperhatikannya. Kalau melihat penampilannya, sepertinya ibu baru pulang kerja. Dia masih mengenakan kemejanya yang biasa dipakai untuk bekerja. Lalu, kapan dia kembali semalam? Apakah ketika aku tertidur?

Ingin rasanya menanyakan tentang kejadian semalam. Tapi aku bingung bagaimana harus memulainya. Dia pasti akan bertanya, dari mana aku tahu. Apakah aku akan mengatakan kalau aku bersembunyi di kolong tempat tidurnya? Pasti dia akan marah.

“Ibu akan masak sebentar. Kalau kamu sudah lapar, kamu makan saja duluan,” katanya kepadaku.

Aku menganggukkan kepala lalu kemudian pergi ke teras rumah. Aku menelpon teman kuliahku tadi. Aku ingin memberitahu temanku kalau ibuku sudah kembali.

“Syukurlah, ini berita bagus. Tapi, jika kau mau memastikannya, kau harus berbicara dengan ibumu,” jawab temanku di telpon.”

“Ya akan aku lakukan. Tapi bagaimana caranya? Tidak mungkin aku mengatakan kalau aku tahu semuanya karena aku telah mengintipnya dari dalam kamarnya.” Aku menjawab dengan suara yang ditahan agar tidak terdengar oleh ibuku.

“Jangan konyol. Jelas ibumu akan marah jika kau berkata seperti itu. Kau bisa mencari alasan yang tepat dan masuk akal. Cobalah pikirkan alasan tersebut,” kata temanku, mencoba memberi saran.

“Hm, alasan apa? Baiklah akan aku pikirkan. Terima kasih telah mempercayaiku,” jawabku.

Aku menutup telponku dan kembali masuk ke dalam rumah. Aku menunggu ibuku di meja makan.

Aku duduk di meja makan sambil memperhatikan ibuku menyiapkan makan malam untuk kami. Dia tampak tenang seperti biasanya. Berbeda denganku yang sedang cemas dari kemarin dan sekarang aku sedang bingung memikirkan kalimat yang tepat untuk menanyakan semua yang telah aku lihat kemarin malam.

“Apa ibu tadi bekerja?” Pertanyaan awal yang berhasil keluar dari mulutku, mengawali percakapan makan malam kami.

“Tentu saja,” jawab ibuku. “Memangnya kau pikir ibu dari mana?” dia menambahkan.

“Hm, aku ingin membicarakan sesuatu dengan ibu,” jawabku.

“Oh ya, silahkan. Apakah sesuatu yang serius?” tanyanya.

“Sepertinya demikian. Aku hanya ingin bertanya karena aku merasa sebagai anak ibu, dan apa yang aku tanyakan ini nanti, itu karena aku mengkhawatirkan dan menyayangi ibu sebagai orang tuaku.” Akhirnya aku berhasil mengawali pembicaraan.

Sedikit lega rasanya setelah berhasil memulai percakapan ini. Tapi tetap saja, aku harus siap dengan segala resiko dan reaksi ibuku nantinya.

“Kamar ibu selalu tertutup rapat dan terkunci. Apakah ada alasan tertentu untuk hal itu? Aku hanya merasa sedikit aneh. Sebagai anak ibu, aku tidak pernah tahu seperti apa keadaan kamar ibu.” Setelah mengatakan kalimat itu, aku bisa merasakan keseriusan wajah ibuku. Dia terlihat sedikit menunduk seperti menyimpan sesuatu di dalam benaknya.

“Apakah kau punya alasan tertentu; kenapa kau menanyakan hal ini?” tanya ibuku tanpa menatapku.

“Aku pernah secara tidak sengaja, melihat ada lukisan besar di pojok kamar. Apa itu milik ayah? Sepertinya lukisan itu indah. Aku ingin melihatnya lebih jelas, jika ibu mengijinkan tentunya.”

“Selesaikan makan malammu. Setelah itu, ibu akan menceritakannya kepadamu.” Ibuku berkata dengan nada datar dan pasrah.


Selesai makan malam, aku menemui ibuku di dalam kamarnya. Dia sedang berdiri di depan lukisan tersebut sambil memandangnya.

“Masuklah,” kata ibuku ketika dia menyadari aku berdiri di depan pintu kamarnya.

Aku melangkah masuk. Aku melihat gamelan kecil yang ada di lantai kamarnya. Beberapa bunga masih terlihat di atas gamelan tersebut. Dupa yang kemarin malam aku lihat juga masih ada. Mendadak aku merinding karena mengingat kejadian kemarin malam. Apakah aku akan mendapatkan jawabannya sekarang? Apakah ibuku akan menjelaskan semuanya? Entahlah. Kita lihat saja nanti.

“Ini-kan, lukisan yang kamu maksud?” tanya ibuku sambil tetap memandang lukisan itu.

“Sepertinya iya. Karena rasanya, tidak ada lukisan yang lain. Hanya ada satu lukisan di rumah ini.” Aku menjawab sambil pura-pura baru saja melihat lukisan tersebut

“Lukisan ini adalah hasil karya almarhum ayahmu.” kata ibuku sambil mengambil kursi di depan meja riasnya, agar dapat mengamati lukisan itu sambil duduk.

Aku duduk di atas kasurnya. Memperhatikan keadaan sekitar. Aku masih bisa membayangkan kengerian yang terjadi kemarin malam. Banyak pertanyaan yang ingin aku keluarkan, tapi aku aku harus berhati-hati menanyakannya.

“Jadi, ayah seorang pelukis?” tanyaku.

“Bukan. Dia hanya bisa melukis. Dia bukan seniman ahli. Hanya penikmat seni dan menyukai barang antik kebudayaan jawa kuno.” Cerita ibuku.

“Dulu setelah menikah, ibu pernah naik delman dengan ayahmu. Dan hanya berdua. Ayahmu menjadi kusirnya pada waktu itu.” ibuku mulai bercerita sambil tersenyum, lalu kemudian dia melanjutkan ceritanya. “Setelah itu, dia mencoba melukis kenangan itu di lukisan ini. Namun, belum sempat dia menyelesaikannya, dia sakit dan kemudian meninggal dunia.”

Aku menjadi sedih mendengarnya. Teringat wajah ayahku. Aku hanya bisa mengingatnya samar-samar karena pada waktu ayah meninggal, aku masih kecil.

“Jadi itu sebabnya, kenapa lukisan kusirnya tanpa kepala?” tanyaku.

Yah, begitulah. Dia bisa melukis wajah ibu karena dia bisa melihat wajah ibu. Tapi untuk wajahnya sendiri, dia menggunakan fotonya sendiri.” jawab ibuku.

“Lalu, untuk apa dupa ini? Dan beberapa bekas kembang ini?” Aku akhirnya bertanya ke inti permasalahanku tentang misteri yang aku alami.

“Eh, itu… ” Ibuku menoleh dan terlihat kaget. Dia tidak menyangka kalau aku bertanya demikian. Dia terlihat gugup dan segera bangkit dari duduknya.

Ibuku membersihkan bekas bunga dan menyingkirkan sisa dupa kemarin malam, dengan terburu-buru. Sepertinya dia tidak menduga kalau hal tersebut bisa menarik perhatianku.

“Kau tahu, jaman dulu ada orang yang biasa membersihkan keris dengan menggunakan air kembang.” ibuku berkata.

“Lalu, apakah ibu juga melakukannya? Keris yang mana? Apakah yang ada di dinding ruang keluarga?” tanyaku penasaran.

“Hm, bukan.” Ibuku terlihat sangat gugup. “Tapi, ayahmu pernah berpesan kalau ibu harus merawat gamelan ini dengan membersihkannya menggunakan air kembang.” jawab ibuku.

“Jangan dipikirkan. Ibu hanya menuruti keinginan ayahmu.”

“Dan dupa itu?” Aku terus mencari jawaban pasti. Dan ibuku sepertinya tersudut dengan pertanyaanku barusan.

“Ah sudahlah. Hal itu tidak penting. Jangan dipikirkan.” Ibuku menjawab dengan tegas.

Aku kecewa dengan jawaban ibuku. Dia masih menutupi peristiwa kemarin malam yang aku lihat. Dia tidak tahu kalau aku menyaksikan semuanya. Segala keganjilan yang terjadi dan memang sulit dijelaskan dengan akal. Justru karena itu, aku bertanya. Tapi entah kenapa ibuku malah memilih untuk tetap merahasiakannya dariku.

“Dan sekarang, kamu bisa melihat isi kamar ibu. Apakah itu membantu rasa penasaranmu?” Tanya ibuku sambil sedikit tertawa.

“Tidak ada hal menarik di kamar ini. Ibu sering menutupnya karena memang sudah menjadi kebiasaan ibu, semenjak ayahmu meninggal. Selain itu, Ibu hanya tidak ingin kamu sedih karena melihat beberapa benda peninggalan ayah ini; terutama lukisan ini.” tambah ibuku.

Ibuku memang benar, tidak ada hal menarik yang bisa di lihat di kamar ini sekarang. Tapi, seandainya ada yang melihat kejadian kemarin malam, itu pasti sangat menarik dan menakutkan. Siapa yang tidak merinding jika melihat orang keluar menembus tembok kamar? Melihat lukisan yang berubah, atau mendengar suara kereta kuda tanpa ada wujudnya sama sekali.

Mungkin karena alasan ‘tidak masuk akal’ ibuku memilih merahasiakan kejadian kemarin malam kepadaku. Sebenarnya, aku hanya ingin tahu untuk apa ibuku melakukan hal demikian. Atas dasar apa, dan apakah hal tersebut wajar? Apakah itu tidak berbahaya? Bagaimana jika yang dilakukan ibuku ada resikonya? Bagaimana jika orang lain, selain aku melihatnya?

“Aku tidak sedih, bu. Jika ayah pergi karena memang sudah menjadi kehendak Tuhan.” Aku berkata dengan senyum datar.

“Rasanya, seperti asing dengan kamar ini. Padahal aku tinggal di dalam rumah ini. Mungkin karena aku tidak pernah melihat kamar ini.” jelasku.

“Ibu tidak melarangmu atau menyembunyikan sesuatu darimu. Itu hanya kebiasaan ibu mengunci kamar.” kata ibuku berbohong.

“Tidak apa-apa bu.” Jawabku datar.

“Lalu hal serius apa yang berhubungan dengan kamar ini, sehingga membuatmu gelisah?” tanya ibuku.

“Kemarin pagi, sebelum berangkat kuliah, aku mendengar suara gamelan dimainkan dari dalam kamar ini.” Aku mulai mengawali ceritaku yang membuatku ketakutan.

“Oh ya? Kau yakin dari kamar ini? Bukan suara dari lainnya?” Ibuku bertanya sambil tersenyum. Menganggap ceritaku seperti cerita anak-anak yang membuat pengakuan tentang melihat hantu, kepada orang tuanya.

“Bu, aku sangat yakin. Bahkan untuk meyakinkan aku menempelkan telingaku di pintu. Dan aku mendengarnya dengan jelas. Aku mendengarnya untuk beberapa saat. Ketika aku mengetuk pintu, suara tersebut menghilang secara misterius.” Kataku dengan nada suara pelan dan tegas. Aku mengatakannya sambil menekankan kalimatku.

Ibuku diam saja mendengarkan ceritaku. Dia mungkin sadar kalau hal tersebut memang benar terjadi. Atau mungkin dia sedang berusaha mencari cara untuk menjelaskannya secara masuk akal.

Bersambung. Cerita ini belum selesai, ya. Masih panjang dan nyicil karena di ketik melalui media handphone.

Leave a Reply

Your email address will not be published.