Proletar Sapu Jagad

Setelah beberapa bulan belum mendapatkan pekerjaan, akhirnya saya mencoba melamar di sebuah UD yang bernama Sapu Jagad, yang bergerak di bidang barang bekas (rongsokan) dan daur ulang, atau bisa dibilang sebagai pemulung.

Antara terpaksa dan kebutuhan, saya jadi harus mengambil keputusan tersebut. Jauh dari gengsi, kotor, berat, dan tidak sebanding dengan apa yang dibayarkan, mungkin seperti itulah pendapat orang-orang yang tidak mengabaikan pekerjaan tersebut.

Di hari pertama memasuki tempat tersebut, ternyata terdapat kantor administrasi dan sistem absensi menggunakan sidik jari. Cukup baik menurut saya. Syarat melamar pun hanya fotokopi identitas. Saya faham, untuk pekerjaan ini mereka lebih memprioritaskan tenaga fisik daripada pendidikan, dan sejujurnya saya sendiri ragu apakah saya mampu jika, melihat fisik kurus ini. Setelah wawancara singkat, karena tidak bisa menyetir mobil pickup dan tidak memiliki motor untuk keliling mencari rongsokan, akhirnya saya ditempatkan di bagian gudang.

Setibanya di gudang, saya melihat banyak sampah yang harus dipilah dan dikelompokan seperti, kardus, kaleng, besi, dan plastik fiber. Meskipun tidak memerlukan keahlian khusus, pekerjaan ini cukup berat buat saya. Mengangkat tumpukan kardus seberat 50kg lebih dan menarik tali plastik untuk mengikatnya pun, membuat tangan saya luka. Pantas saya melihat ada banyak stok plester obat di sana.

Bagian lain yang berat, saya alami ketika memuat barang ke dalam truk. Ketika truk besar datang dan pekerja harus menaikan barang-barang yang sudah dipilah-pilah dan akan dikirim ke pusat daur ulang.

Saya dan pekerja lainnya harus mengangkat tumpukan kardus seberat 50kg lebih, dan beberapa karung sampah lainnya lalu menatanya di dalam bak truk tersebut. Meskipun hanya satu mobil truk tetapi dengan melihat tinggi muatannya, jelas itu kapasitas dua bak atau dua truk. Cuaca saat itu sedang tidak bersahabat, panas beberapa jam, lalu kemudian hujan turun dengan deras. Seperti menguji ketahanan fisik, setelah dibakar panas kami diguyur hujan. Pekerjaan pun terus berlanjut. Tidak mungkin dihentikan karena waktu terbatas.

Setelah selesai dengan truk dan dalam keadaan basah kuyup, saya kembali ke gudang kardus. Memilah dan mem-press kardus tersebut menjadi bundelan besar. Semua dilakukan dengan cara manual dan tradisional.

Sambil terus bekerja saya diam merenung. Seperti ini kehidupan yang dirasakan mereka setiap harinya; tidak ada pilihan pekerjaan ketika kesempatan terbatas hanya untuk mereka yang berijazah, memiliki keahlian, atau punya uang banyak. Kebutuhan ekonomi dan urusan perut, membuat mereka termasuk saya harus memilih pekerjaan ini. Hal ini lebih mulia daripada melakukan tindakan kriminal atau melakukan pekerjaan ilegal.


Lima belas hari lamanya dari awal saya masuk, saya berada di gudang dan melakukan muat barang ke truk dan memilah sampah. Sampai pada akhirnya, suatu hari saya dipanggil si Bos…

Ternyata kualitas tenaga fisik saya tidak mumpuni untuk melakukan muat barang, menurut si Bos. Sehingga, mulai saat ini dan seterusnya saya akan di tempatkan di lapangan. Saya akan keliling mencari barang bekas, dan sistem gaji saya sesuai dengan berapa banyak saya bisa mengumpulkan barang. Saya cuma bisa diam saja ketika si Bos menjelaskan semua prosedurnya. Yang ada di pikiran saya adalah, ‘saya akan semakin kesulitan.’

Sebenarnya saya lebih menyukai di gudang karena, pendapatan jelas sebesar 45k/hari dan makan siang prasmanan. Berbeda dengan di lapangan yang harus modal bensin sendiri (rata-rata 2liter/hari), dan makan siang dari uang sendiri; belum lagi jika kita tidak mendapatkan barang atau jumlah timbangan kita kurang, maka akan timbul minus dari modal yang diberikan.

Saya sudah mencoba menolak dengan baik supaya tidak ditempatkan di bagian lapangan, akan tetapi keputusan tidak bisa dirubah. Menurut si Bos, pinggang saya bisa cedera kalau saya berada di bagian gudang dalam jangka waktu yang lama. Akhirnya, saya menerima keputusan tersebut dan mencoba untuk keliling mencari barang bekas.

Pada hari pertama, saya cukup beruntung, karena semua barang saya ambil dari rumah dan beberapa tetangga memberikannya dengan cuma-cuma. Kebetulan, memang ada banyak barang bekas yang mau dibuang jadi, pada hari itu saya tidak keluar modal selain membeli bensin.

Di hari kedua, cukup baik. Seorang teman punya beberapa karung barang bekas dan total ada empat karung. Saya sudah mencoba membeli dengan harga yang rendah, tapi entah bagaimana hitungan admin, ternyata saya hanya mendapatkan 10k pada hari itu. Jelas ini bukan hasil yang baik. Pendapatan 45k saja masih kurang, apalagi di bawah nominal tersebut.

Hari ketiga, saya memutuskan untuk meminta kembali ke gudang akan tetapi, jawaban yang diberikan masih sama. Murung dan bingung, itu yang saya rasakan pagi itu. Saya mencoba keliling dan bertanya dari rumah kerumah, dari setiap toko dan warung, hasilnya nihil. Jawaban yang saya dapat dari bertanya seperti, sudah dipesan, mau dijual sendiri, atau masih dikumpulkan dan menunggu banyak jumlahnya agar bisa ditimbang, dari kardus atau barang bekas yang mereka punya. Sungguh celaka! Dua liter bensin sudah keluar, itu artinya 20k sudah terpakai untuk modal, sementara seharian ini, saya belum mendapatkan hasil apapun.

Menjelang sore, saya kembali ke gudang tanpa muatan yang seberapa. Hanya ada dua tutup panci dan sebundel buku bekas. Terlalu ringan untuk ditimbang. Engsel gerobak saya juga patah. Saya bisa bisa melihat raut wajah si bos yang kusut melihat keadaan saya yang tidak membawa hasil apa-apa.

Setelah muatan saya ditimbang, benar saja, hasil kurang dari 20k dan itu artinya saya minus. Si bos memanggil saya, menyuruh saya duduk di sebelahnya, di atas tumpukan kardus. Saya ditegur habis-habisan seperti orang yang baru saja melakukan kesalahan fatal. Mulai dari hasil saya yang tidak seberapa, tidak membawa handphone ketika kerja, tidak punya beberapa perlengkapan seperti karung, tali dan lain-lain. Saya hanya diam.

Dua orang admin disekitar saya memperhatikan dengan wajah prihatin. Mereka mungkin tahu kalau saya hanya tidak bisa bekerja dalam bidang ini atau memang saya yang terlalu payah, malas dan kurang bersemangat dalam bekerja, karena beberapa tim lapangan lainnya, bisa mendapatkan hasil yang memuaskan, bahkan lebih dari yang dibayangkan. Apapun alasan dan keadaan yang menimpa saya, bagi seorang bos, tidak ada alasan apapun untuk tidak bisa bekerja dan membuahkan hasil.

Saya pulang dengan tangan hampa. Sambil mengayuh sepeda menuju rumah, saya pulang dengan keadaan letih dan lesu. Dalam perjalanan, saya masih memikirkan perkataan si bos yang agak kasar. Meski dia benar namun, ucapannya cukup menyinggung.

Akhirnya setelah tiba di rumah, saya mempertimbangkan untuk berhenti dari pekerjaan tersebut. Saya memikirkannya dengan matang. Saya menyadari bahwa saat ini saya membutuhkan uang untuk membayar tanggungan dan memberikan nafkah untuk keluarga namun, saya juga tidak bisa memaksakan diri jika, pada dasarnya saya tidak memiliki cukup tenaga dan keterampilan bekerja di bidang tersebut; yang ada, saya hanya akan merepotkan banyak orang nantinya.

Malam sebelum tidur, saya masih terus memikirkan dan mempertimbangkan keputusan saya untuk berhenti, sambil melihat beberapa informasi lowongan pekerjaan baru di situs sosial media, sampai pada akhirnya saya tertidur karena terlalu lelah.

Saya mencatat ini untuk mengingatkan kepada siapapun termasuk saya sendiri bahwa, mereka yang ada di profesi ini adalah kaum proletar yang sebenarnya. Mereka tetap berusaha dengan segala upaya yang ada, untuk tetap bisa bertahan hidup dan mencari nafkah. Mereka lebih baik daripada, harus menjadi pengemis dan menggantungkan hidupnya kepada orang lain. Dari pengalaman ini semoga kita bisa lebih menghargai segala profesi yang ada, dan bersyukur atas nikmat Tuhan yang sudah diberikan.

“Salam semangat untuk Daniel. Partner saya dari kota Medan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published.