Menunggu Masa Depan

“Tentang harapan dan masa depan, hal apa yang kalian tunggu saat ini?”

Membaca pertanyaan di atas, saya jadi berpikir tentang apa yang saat ini sedang saya tunggu. Sepertinya, ada hal yang masih ‘mengganjal’ yang membuat saya belum bisa melanjutkan rencana masa depan. Beberapa pertanyaan pun sudah sering saya terima dari beberapa kawan seperti; mau tinggal di mana, mau kerja apa, mau buka usaha apa? Dan saya sendiri masih belum menentukan jawaban yang pasti untuk semua pertanyaan tersebut.

Tentang tempat tinggal, sepertinya saya akan menetap di Bali (lagi) karena sampai saat ini pun, saya belum menemukan sebuah titik terang di mana saya harus tinggal. Saya menyadari jika kredibilitas yang telah rusak akan sulit untuk diperbaiki. Meskipun kita berusaha dan sudah memperbaikinya, bagi orang lain, itu seperti perban yang menutup luka lama. Bekas luka serta penyebabnya tetap akan menjadi pembahasan utama ketika kita tidak bisa menjadi seperti yang mereka harapkan. Lalu apa makna sebuah perbaikan jika kita tidak menyembuhkan lukanya? Meskipun luka tersebut berhasil sembuh, jika tidak ingin sembuh, apa gunanya mengobati?

Tentang profesi. Apapun pekerjaan atau aktivitas rutin yang kita miliki, menjadi tanda bagi orang-orang kalau kita bisa bermanfaat. Profesi dan aktivitas yang bisa menghasilkan pendapatan, akan menjadi nilai lebih bagi orang lain dan diri kita sendiri. Saya sendiri telah membuktikan hal tersebut. Ketika membuat beberapa website, melayani konsultasi hosting, membuat desain, memperbaiki komputer, sampai mengajar, sudah pernah saya lakukan.

Dari pengalaman tersebut saya menyadari kalau setiap orang bisa memiliki potensi yang natural. Bakat bukan sesuatu yang dibawa sejak kita lahir, melainkan sesuatu yang perlu kita pelajari, tekuni dan praktekan. Sampai pada akhirnya kita menemui sebuah pertanyaan, “apakah masih ada kesempatan?” ketika kita akan menyalurkan bakat yang kita miliki.

Semua hal di atas tidak akan berarti bagi orang lain yang tidak bisa menerima kredibilitas kita. Seperti pada istilah “jangan tutupi lukanya, tapi sembuhkan.” Kita semua tidak selamanya ‘berpesta.’ Pada akhirnya kita akan berhenti berdansa. Jika masih ingin melanjutkan persta tersebut, maka lakukanlah di tempat lain. Dalam hal ini, jika orang yang kita ajak berdansa tidak ingin sembuh dari lukanya, maka sembuhkanlah lukamu sendiri agar kamu tetap bisa mengembangkan potensi yang ada pada dirimu.

“Lalu kapan kita memulainya?”

Mengadakan sebuah pesta masa depan untuk diri kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published.