Bawa Aku Ke Planet Lain

Pernahkah kalian merasa berada di tempat yang salah? Di mana semua keadaan sangat tidak nyaman, lingkungan, karakter masyarakat, bahkan situasi yang ada terasa sangat menjengkelkan. Sungguh, hal tersebut bisa membuat stress bahkan membuat emosi

Diawali dengan bangun tidur yang (jelas kurang nyenyak) mata masih mengantuk tapi jam seolah berteriak kalau “anda sudah terlambat bangun!”. Terburu-buru mempersiapkan diri untuk beraktivitas di dunia, melewati sarapan pagi, demi beberapa rupiah penopang hidup. Bukan pagi segar yang terlihat. Kendaraan berbagai merek mulai nampak mengisi jalanan seperti otomatis sudah di atur untuk muncul pada jam tersebut.

Saya mulai masuk kedalam kendaraan umum yang akan mengantarkan saya ke tempat bekerja. Beberapa mahluk terlihat memegang benda yang katanya ‘cerdas.’ Mata mereka menatap kelayar benda tersebut, jari-jari mereka bergerak-gerak di atasnya. Mereka seperti dibimbing oleh benda tersebut.

Saya sendiri memiliki benda tersebut. Karena lupa mengisi dayanya, benda milik saya tidak bisa digunakan pagi ini. Saya memperhatikan mereka satu persatu, mereka tidak menyadarinya karena terlalu sibuk dengan mainannya. Akhirnya saya merasa kalau saya ‘berbeda’. Tidak ada yang memperhatikan saya dan mereka juga tidak tahu kalau saya memperhatikan mereka.

Bekerja seharusnya menyenangkan jika kita bisa menikmati pekerjaan tersebut, apalagi jika pekerjaan tersebut sesuai dengan hobi kita. Akan tetapi di manapun kita bekerja, selalu ada satu atau beberapa mahluk menyebalkan yang menambah beban pekerjaan dan tekanan. Mahluk tersebut bisa berwujud atasan, teman kerja atau mungkin hanya beberapa klien yang merasa selalu benar dan seperti raja.

Hari melelahkan setelah 8 jam bekerja (malah terkadang lebih dari 8 jam) akhirnya berakhir dan senja muncul menggandeng malam. Mari kita pulang meninggalkan beberapa pekerjaan yang belum terselesaikan. Bukannya tidak selesai, tetapi karena ulah para mahluk menyebalkan yang suka menambah pekerjaan dengan alasan minta tolong, tidak sempat, sibuk, tidak bisa, atau apa saja trik yang mereka gunakan untuk melimpahkan pekerjaannya ke kita.

Di perjalanan pulang, masih harus berdesakan di dalam angkutan umum. Mendengar beberapa nada sumbang pengamen dan suara pedagang asongan yang menawarkan dagangannya. Terkadang penawaran mereka agak memaksa. Maklumlah, mereka juga berjuang demi rupiah penopang hidup. Hal tersebut lebih baik daripada mencari rupiah dengan jalan pintas setan.

Akhirnya tiba juga di tempat tinggal yang berbayar setiap bulannya (dan mendadak jadi ingat tagihan bulan ini). Sebelum masuk, tercium aroma masakan nasi goreng terdekat sehingga sadar kalau malam ini belum ada makan malam yang siap. Berpikir sejenak tentang; beli makanan atau buat mie instan sendiri? Mengingat tagihan sewa tadi, akhirnya mie instan menjadi pilihan menu malam ini.

Manusia mahluk sosial kan? Demikianlah alasan jejaring sosial dibuat, mungkin untuk kaum yang jarang bersosialisasi di dunia nyata. Berinteraksi dengan, hm… Siapa? Entahlah. Banyak mahluk yang bisa kita temukan di sana, tapi yang benar-benar ingin bersosialisasi dengan kita, yang mana? Sebagian besar hanya memanfaatkan jejaring sosial untuk berjualan, mencari pasangan semu, pamer, mencari perhatian, menunjukan ekstensi dirinya dan lain-lain.

Melihat berita dan gambar indah tentang dunia, kehidupan mewah, wajah indah nan terawat cukup menyita waktu malam, meskipun entah itu keadaan yang sebenarnya atau hanya bungkus sebuah profil yang ingin terlihat indah di dunia maya.

Sebelum menutup mata, saya sempat membaca sebuah artikel tentang mahluk asing, lalu berpikir sejenak tentang mereka. Betapa mereka sederhana, polos, dan misterius (kelihatannya) namun, mereka memiliki teknologi luar biasa. Mereka memiliki kendaraan untuk pergi menjelajah antar galaksi. Berbeda dengan mahluk di planet ini yang menghabiskan rupiah untuk membeli dan memamerkan benda yang hanya terbatas di planet ini saja.

Apakah saya juga termasuk mahluk asing tersebut? Bukan dari segi teknologi dan misteriusnya, akan tetapi dari status starata di masyarakat. Karakter introvert dan pendiam yang saya miliki, membuat saya merasa seperti mahluk asing yang terdampar di planet yang salah. Jika memang benar demikian, “tolong bawa saya ke planet yang lain.”

Leave a Reply

Your email address will not be published.