Secangkir Kopi Pagi

“Aku tidak ingin menjadi Monster!”

Kalimat tersebut terus menerus berbunyi di pikirannya, berteriak di dalam benaknya. Kita semua tahu, kalau setiap orang pasti memiliki permasalahan hidup. Masalahnya, tidak semua orang mengerti bagaimana cara menyelesaikannya.

Dia terus berpikir, dan semakin keras dia berpikir justru membuatnya semakin marah, marah pada keadaan, orang-orang, keluarga, bahkan dirinya sendiri. Dunia telah menghakiminya.

1. Seperti lahir dari batu.
Dilahirkan lalu kemudian dicampakkan oleh kedua orang tuanya, seolah dia beban bagi mereka. Lalu ketika dia dewasa, orang tuanya menghakiminya sebagai anak yang durhaka.

Semasa kecil dia terbuang sebagai akibat dari perceraian kedua orangtuanya, dan hidup berpindah-pindah hanya untuk bertahan hidup. Ketika dia dewasa, dunia menilai dia cuma… sebagai anak yang tidak pernah berbakti kepada orang tuanya,Hanya karena, dia tidak mengetahui di mana keberadaan orang tuanya.

Dia berkata pada dirinya sendiri, “bagaimana aku bisa berbakti jika, kalian tidak pernah ada?”

2. Tempat yang salah, atau kepribadian yang salah?
Berpindah tempat dari kota bahkan ke pedesaan, hanya untuk mencari jati diri dan ketenangan. Hidupnya nomaden karena tidak memiliki tempat tinggal yang tetap. Di mana dia bisa bekerja, maka di sana lah dia tinggal.

Dia memulainya dari kota besar. Tekanan dan kekerasan di sana membuatnya semakin membenci keadaan, sampai pada akhirnya dia memilih kota kecil yang dekat dengan pedesaan. Lingkungan yang diharapkan jelas kedamaian dan dia berharap bisa menemukan orang yang bisa memahaminya. Namun perbedaan kultur budaya, gaya hidup dan bahasa, ternyata membuatnya terlihat berbeda dan ‘dibedakan’ oleh masyarakat di sana.

Usahanya untuk beradaptasi selalu salah. Padahal, dia hanya berpindah domisili atau provinsi, bukan pindah negara, tapi kenapa rasanya seperti orang asing yang berasal dari negara lain? Dia masih menggunakan bahasa negaranya dan menerapkan adab serta tatakrama kesopanan. Beberapa norma masyarakat pun, dia masih mau mengikutinya. Lalu, kenapa sedalam itu mereka melihat perbedaan pada dirinya?

3. Agama dan seni.
Dia sangat menyukai seni meskipun, dia bukan seniman atau orang yang ahli dalam bidang seni. Bentuk grafis, suara, dan struktur benda, sangat menarik perhatiannya. Dia suka membuat sesuatu seperti hal-hal kreatif sederhana atau pernak-pernik hiasan dari benda-benda yang bisa dia dapatkan.

Bagi sebagian orang yang memahami karyanya, terkadang memberikan respon positif dan menghargai hasil karyanya. Namun sayangnya, dia telah tinggal di tempat yang berfokus pada aktivitas keagamaan. Dia berada di lingkungan di mana, karya seni dianggap bertentangan.

Gambar seni; tipografi, grafiti, vektor, pop art, dianggap sebagai bentuk ekspresi vandalisme dan dianggap bertentangan dengan agama mereka. Seni rupa bentuk figur dan dekorasi, juga demikian. Bagi agama mereka itu bentuk perwujudan berhala. Karyanya hanya mendapat dua pilihan; disembunyikan atau dimusnahkan. Menanggapi hal demikian, dia tidak memperdulikannya. Mereka menyingkirkan karyanya.

Dalam hal keagamaan, dia percaya jika di semesta ini hanya ada satu Tuhan. Hubungan antara mahluk dengan Tuhan, menurut pendapatnya adalah sesuatu yang intim dan pribadi.

Ketertarikannya terhadap seni juga menjadikannya dihakimi oleh orang-orang sekitarnya, yang sebenarnya mereka hanya tidak memahami atau tidak tertarik pada seni. Mereka mengatakan kalau dia sebagai umat yang jauh dari agama, hanya karena seni tidak berkaitan dengan agama. Seperti, larangan memperdengarkan suara nada kecuali nada keagamaan, tidak boleh ada benda seni atau simbol tertentu, kecuali simbol keagamaan.

Beberapa karyanya telah disingkirkan. Apa yang dia buat tidak bernilai apapun bagi mereka. Dia berusaha beradaptasi, terus berusaha. Semakin kuat dia menuruti kemauan mereka, semakin dia merasa kehilangan Jati dirinya.

4. Penilaian negatif.
Segala kebaikan dan tindakannya tidak diperhatikan oleh orang-orang di sekitarnya. Namun sebaliknya, keburukan dan kesalahannya justru menjadi catatan khusus bagi mereka.

Dia bukannya pamrih atau tipe orang yang suka mengungkit sebuah perbuatan baik yang telah dilakukannya, tapi dia hanya ingin merasakan sedikit dihargai. Atau jika memang tidak bisa dihargai, sebaiknya jangan menghakimi atau menyudutkannya dengan cara sepihak. Meskipun demikian, tidak ada dendam atau kebencian yang dia berikan. Dia selalu menganggap mereka hanya belum bisa memahami sesuatu dari segi nilai yang positif.

“Hukumlah kesalahannya, bukan orangnya. Jika kalian melihat seseorang melakukan kesalahan. Karena pada dasarnya manusia itu terlahir suci dan bersih.”

5. Membunuh karakter
Dalam kesehariannya, dia selalu berusaha tenang. Dia tetap berusaha agar bisa diterima. Matanya semakin terlihat sayu ketika sedang tersenyum, karena menahan sesak yang dia rasakan semenjak dia kecil. Rasa sesak karena tekanan yang hanya bisa dia pendam.

Dia selalu berbicara seperlunya bahkan, orang menilainya sebagai orang yang pendiam dan tertutup. Mungkin karena keadaan atau memang sudah menjadi karakternya membuat dia memiliki pribadi yang bersifat introvert. Meskipun demikian, dia tetap menerima hal-hal positif dari orang lain. Salah satu ciri khasnya adalah sebagai pendengar yang baik. Dia tidak pernah menyela perkataan seseorang dan dia selalu diam ketika orang berbicara atau mendadak menyela perkataannya.

6. Tidak merubah apapun.
Keadaan dan kehidupan memang terkadang tidak adil ketika kita telah berusaha namun, keadaan tetap menghakimi secara sepihak.

Dia merasa semakin jauh dan merasa tersisihkan. Apa yang telah dilakukannya tidak merubah apapun di dalam kehidupannya dengan mereka semua. Sekarang, dia lebih sering mengurung diri di dalam kamarnya dan jarang berinteraksi sosial. Berbagai asumsi muncul di dalam benaknya seperti ‘mungkin, dunia akan lebih baik tanpaku’, hal tersebut telah membuatnya merasa seperti sebuah kerikil di tengah jalan.

Dalam segala masalah sosial yang dihadapinya, dia seperti melihat Tuhan di dalam dirinya ketika rasa sesak tersebut terasa menyakitkan. Dalam kesendiriannya, dia menganggap Tuhan ada di dalam hatinya, merasakan kedekatanNya dan seperti mendapatkan jiwa yang tenang. Dia selalu berkata di dalam hatinya, “aku rindu. Rindu sesuatu yang tidak bisa aku pahami. Aku tidak tahu rindu tentang apa. Aku hanya merasa merindukan sesuatu.”


Secangkir kopi pagi

Pagi hari ini sangat indah. Suara burung dan hawa udara pagi yang segar, membuatku merasa bersyukur bisa menyeruput secangkir kopi pagi ini. Setelah mandi dan sarapan, masih ada waktu setengah jam untuk menikmati kopi pagi, sebelum akhirnya aku harus melakukan pekerjaan dan aktivitas yang menyenangkan. Sejenak, aku memperhatikan ke halaman depan rumah, ada beberapa orang tetangga dengan wajah sedih berdatangan kerumah.“Apa yang sebenarnya telah terjadi?” tanyaku dari dalam hati.

Aku melihat istriku menyalami mereka satu persatu, lalu kemudian mereka duduk lesehan di ruang tamu. Ada sosok terbaring di tengah ruang tamu, ditutupi dengan kain sekujur tubuhnya. Aku mendengar para tamu membaca doa dengan suara lirih. Wajah mereka tidak secerah pagi ini.

Aku kemudian pergi ke kamarku dan aku melihat keadaan kamar yang berantakan. Beberapa buku berserakan di lantai, cermin di kamar sedikit retak, dan beberapa tablet obat mengandung diazepam terlihat berceceran di lantai. Aku jadi berpikir,“siapa yang telah melakukan semua ini? Apa pencuri baru saja masuk dan mengacak-acak isi kamar?”
Dari tiang langit-langit tanpa plafon, terlihat seutas tali tambang terikat di atas, dan talinya terjulur kebawah dengan ujung tali yang membentuk simpul lingkaran, ada sebuah kursi tergeletak jatuh tepat di bawahnya. Aku pergi dari kamar lalu menuju keluar rumah, meninggalkan mereka yang ada di dalam rumah.

Aku keluar dari rumah. Dalam hati yang tenang dan damai, aku membayangkan bahwa aku akan melakukan banyak hal menarik nantinya atau mungkin, aku malah akan bertemu dengan beberapa orang yang menyenangkan di sana nanti.

-Berita pagi itu menyebutkan bahwa, seorang pria gantung diri tadi malam, meninggalkan seorang istrinya.

Sumber Referensi: Alasan-alasan yang Mendorong Aksi Bunuh Diri. [Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia]

Leave a Reply

Your email address will not be published.